Main Menu

Terancam Sanksi Akibat Beli Sukhoi, Indonesia Dibela Komandan Tentara AS

Hendri Firzani
05-05-2018 11:53

Sukhoi Su-35.(Reuters/Pascal Rossignol/re1)

Jakarta, Gatra.com - Amerika siap menjatuhkan sanksi kepada Indonesia dan sejumlah negara di Asia yang mengimpor alat utama sistem pertahanan (alutsista) produksi Rusia. Sanksi tersebut mengacu undang-undang yang disahkan Presiden Donald Trump pada Agustus 2017, Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) .

 

Regulasi yang dibuat  untuk menghukum Rusia atas "dosa-dosanya" menganeksasi Semenanjung Crimea-Ukraina pada 2014, keterlibatan Rusia dalam perang di Suriah, dan intervensi dalam pemilihan presiden Amerika 2016.

Indonesia  meneken kesepakatan untuk membeli 11 jet Sukhoi Su-35 dari Rusia, Februari lalu dan kemungkinan akan menambah 5 pesawat lagi, untuk menggenapkan menjadi 1 skuadron penuh.  Kontrak yang ditandatangani perwakilan kedua negara di Jakarta itu bernilai total US$1,14 milyar. "Dua unit jet Sukhoi akan dikirimkan pada Agustus 2018," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Indonesia, Totok Sugiharto, saat itu. Enam jet lainnya dikirim 18 bulan setelah kontrak mulai berlaku dan tiga jet sisanya pada lima bulan kemudian.


Laksamana Phil Davidson, kandidat kuat Komandan Armada Pasifik Amerika Serikat menyatakan keprihatinannya, bila Indonesia dan dua negara lainnya yaitu India dan Vietnam mendapat sanksi AS. India diketahui hendak membeli 3 paket sistem pertahanan anti rudal S-400 senilai US$6 Milyar. Sedangkan, Vietnam juga sedang menjajagi kemungkinan membeli pesawat tempur Sukhoi.

Sebagaimana dikutip Military.com,  Davidson mengatakan, jika AS memutuskan memberikan sanksi kepada ketiga negara yang dianggap sekutu AS di Pasifik ini, maka keputusan itu akan menghalangi tumbuhnya kerjasama dengan AS, dan justru meningkatkan ketergantungan negara-negara tersebut terhadap Rusia. "CAATSA bukan jawaban," ujar Davidson, dalam surat responnya kepada komisi terkait angkatan bersenjata di Senat AS, beberapa waktu lalu.

 


Editor: Hendri Firzani   

 

Hendri Firzani
05-05-2018 11:53