Main Menu

Perang Tagar Masih Wajar

Sandika Prihatnala
05-05-2018 13:33

Diksusi polemik "Politik Tagar Bikin Geger".(GATRA/Abdurachman/re1)

Jakarta, Gatra.com - Perang tagar (#) antara #Jokowi2Periode dan # 2019Gantipresiden menjadi dinamika politik menjelang Pemilu 2019. Melihat perkembangan perang tagar yang terjadi di medsos belakangan ini merupakan hal yang wajar. 

 

Pada Diskusi Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu(4/5). Nur Sukarno Presiden Republik Cyber Projo mengatakan perang hastag merupakan sebuah realitas media sosial yang memunculkan pro dan kontra politik. Pada #2019Gantipresiden, dinilainya adalah aksi yang terorganisir.

"Itu sudah terpusat. Kalau saya mau sebut itu PKS. Seperti Gerindra dengan cyber-cybernya. Namun kalau yang #2019TetapJokowi, itu bervariasi hastagnya ada yang #JKW24 dan lainnya itu kami melihat belum terkondisikan secara sentralistik," papar Nur Sukarno.

Bagi Projo yang terpenting adalah seberapa besar masyarakat menangkap pesan itu. Menurutnya spot-spot dari menyeruaknya perang tagar itu berada di Jakarta dan pelakunya itu saja. Sedangkan di kota-kota besar itu hanya berlokasi 1 sampai 3 tempat saja. "Buzer-buzernya itu-itu saja. Disebelah itu buzernya ya PKS saja seperti Mardani," ucapnya.

Sementara itu Mustofa Nahrawardaya selaku relawan #2019GantiPresiden mengibaratkan fenomena yang terjadi ini seperti, tagar seperti aturan sepak bola. Ia menyebutkan salah satu pihak tidak boleh mengeklaim pihak lain mengerahkan buzzer. Kedua belah pihak pun bisa mengerahkan buzzer.

Mustofa mengaku bila #2019GantiPresiden terdapat nama-nama kader partai. Tak hanya itu dalam diskusi, Mustofa memaparkan analisanya tentang partisipasi netizen melalui akun Twitter. Dalam kurun waktu satu jam tweet #2019TetapJokowi hanya mencapai 60 tweet sedangakan #2019GantiPresiden sudah mencapai 250 tweet.

Perang tagar, kini menjadi cara efektif, kata Mustofa, sebab dapat melihat kekuatan dan kelemahan dari masing-masing kelompok. Selain itu tagar ini bisa dimanfaatkan untuk mempengaruhi banyak orang dan merekrut banyak orang. "Tagar bisa melacak digital seseorang. orang yang melompat tagar, lompat partai bahkan melompat ideologi itu dapat ketahuan. Karena itulah sistem ini masih sehat," kata Mustofa.


Reporter : RAS

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
05-05-2018 13:33