Main Menu

Ini Kebijakan Rizal Ramli Kalau Jadi Presiden

Mukhlison Sri Widodo
09-05-2018 20:15

Rizal Ramli menjadi pembicara di kampus UIN Sunan Kalijaga, DI Yogyakarta.(GATRA/Arif Koes/re1)

Yogyakarta, Gatra.com - Mantan Menteri Pereknoomian Bidang Kemaritiman Rizal Ramli berjanji akan melakukan tiga hal jika dirinya terpilih sebagai presiden 2019. 

 

“Pertama, saya akan menangkap 100 orang brengsek termasuk ‘bapak’ yang dari Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Mereka ini adalah perusak ekonomi bangsa dan sistem kenegaraan kita,” kata Rizal di kampus UIN Sunan Kalijaga, DI Yogyakarta, Rabu (9/5).

Bersama Dirjen Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Suminto, Direktur Puzkas Badan Amal Zakat Nasional Irfan Syauqi Beik, Direktur Magashid Institute Ali Abdul Mun’im, Rizal hadir sebagai pembicara seminar nasional bertajuk ‘Hutang Pemerintah dan Masa Depan Perekonomian Pemerintah’.

Rizal akan mengirim "orang brengsek" ke pulau malaria yang ada di selatan Kalimantan. Hal ini untuk menghilangkan tuduhan pelanggaran HAM karena jika mereka meninggal penyebabnya adalah penyakit malaria.

Hal ke dua yang akan dilakukan Rizal adalah mengubah sistem utang pemerintah. Menurut dia, saat ini sistem utang pemerintah didasarkan pada bunga utang yang besar dan pengondisian aturan yang menguntungkan pemberi utang.

“Pengondisian kebijakan atau aturan yang menguntungkan para pengutang seperti swastanisasi air bersih dan privatisasi di segala bidang. Aturan ini merupakan pintu masuk neoliberalisme yang ujung-ujungnya adalah kapitalisme,” katanya.

Jika jadi presiden, Rizal akan mengubah strategi utang dengan memaksimalkan tawaran pinjaman yang memiliki bunga rendah semisal yang ditawarkan Kuwait.

Tidak hanya itu, menurut Rizal, pemerintah akan mengadakan kerjasama utang dengan negara-negara Eropa yang konsen pada lingkungan. 

Salah satunya Jerman yang bersedia memotong triliunan utang dengan syarat Indonesia harus menjaga jutaan hektar lahan konservasi.

Sedangkan hal ketiga yang akan dilakukan Rizal adalah mengubah sistem politik dari demokrasi kriminal menjadi demokrasi yang akuntabel. 

Menurut dia, demokrasi kriminal yang terjadi sekarang adalah membebaskan partai politik mendapatkan dana dari mana saja. 

Akibatnya kader partai yang terpilih melakukan korupsi karena harus mendapatkan ganti uang yang telah dikeluarkan untuk biaya politik. Alhasil saat ini banyak pemimpin daerah dan anggota legislatif yang ditangkap karena korupsi.

“Berbeda dengan demokrasi akuntabel. Partai mendapatkan anggaran dari negara dan dilakukan audit. Sehingga tugas partai hanya mencari kader terbaik untuk membawa kesejahteraan rakyat. Ini seperti di Eropa,” katanya.

Jika nantinya ada yang merusak sistem ini, maka Rizal berjanji akan mengirimkan orang tersebut, lagi-lagi, ke pulau malaria tersebut.

Rizal juga berjanji jika memimpin Indonesia dia menjamin akan ada pertumbuhan ekonomi hingga 10 persen atau dua kali lipat dibandingkan saat ini. Pertumbuhan ini akan meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat dari 4.000 dollar menjadi 7.500 pada 2024.

Sejauh ini belum ada partai politik yang menyatakan akan mengusung Rizal di pilpres 2019. Kemarin Rizal bertemu dengan Ketua MPR sekaligus ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
09-05-2018 20:15