Main Menu

Abu Merapi: Tipis tapi Ganggu Kesehatan

Mukhlison Sri Widodo
11-05-2018 13:13

Hujan abu pasca erupsi Merapi di jalan Kaliurang, Yogyakarta. (Ist/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Abu tipis dari letusan Gunung Merapi pagi ini dilaporkan telah menyebar di empat wilayah DI Yogyakarta.

 Abu erupsi ini rentan mengganggu kesehatan mulai dari iritasi mata hingga gangguan pernafasan.

Anung Trihadi, Kepala Seksi Kesehatan Rujukan dan Kesehatan Khusus, Dinas Kesehatan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta menjelaskan, bahwa meskipun materialnya kecil, abu erupsi gunung Merapi bisa mengenai mukosa atau bagian tubuh paling rentan melalui saluran pernafasan.

"Jadi kami imbau kalau tidak ada kepentingan urgen di luar rumah, jika masih ada abu sebaiknya warga tetap di dalam rumah," ujar Anung saat menggelar jumpa pers di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta, Jumat (11/5) siang.

Namun, kata Anung, jika terpaksa keluar rumah, warga wajib melindungi hidung dan mulutnya dengan masker dan kacamata.

Jika tidak, kesehatan bisa terganggu. "Seperti iritasi mata, mata jadi merah. Kalau yang punya alergi saluran nafas, mudah kena batuk, bahkan sampai sesak nafas," jelas Anung.

Kepala BPBD DI Yogyakarta Biwara Yuswantana mengatakan puskesmas di Kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul telah menyediakan  stok masker secara cuma-cuma untuk warga.

"Sebaran abu ini karena angin. Jadi tergantung angin mau bawa ke mana. Arah angin saat ini ke selatan dan barat. Hujan abu terjadi di Sleman, Kota Jogja, dan Bantul secara sporadis. Sebaiknya di dalam rumah saja kalau tak ada hal yang perlu," kata Biwara.

Ia menjelaskan, penanganan saat ini pada dampak erupsi berupa abu. Erupsi  hanya terjadi di permukaan berupa material lama sisa erupsi 2010 yang tertekan ke luar. 

"Jadi bukan dari magma yang membawa material panas selerti batu dan wedus gembel," kata dia.

Menurutnya, memang tidak ada tanda-tanda seismik untuk letusan pagi ini. "Semua normal saja," katanya.

Biwara belum bisa memastikan akan letusan susulan. Namun berdasar data seismik kondisi Merapi kembali ke normal.

Dengan kondisi itu, radius bahaya 5 kilometer diturunkan ke 2 kilometer. Selain itu, ada sekitar 190 orang pengungsi di desa Purwobinangun. 

"Mereka sudah mulai kembali. Pendaki juga tidak ada korban. Semua aman," katanya.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
11-05-2018 13:13