Main Menu

Cuma di Merapi, Letusan Freatik Tak Pernah Terdeteksi

Mukhlison Sri Widodo
11-05-2018 20:08

Hanik Humaidah (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com - Gunung Merapi meletus tiba-tiba tanpa tanda-tanda dan tak terdeteksi teknologi.

 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)  Hanik Humaidah mengatakan letusan freatik Gunung Merapi itu tidak terbaca seismograf.

Hanik menyatakan sebelum letusan freatik, tim monitoring di BPPTKG sama sekali tidak melihat tanda-tanda akan terjadi letusan di seismograf. 

Bahkan getaran atau gempa yang menjadi tand-tanda akan terjadi letusan juga tidak tampak.

“Padahal alat pemantau yang kami tempatkan di Gunung Merapi semua berjalan normal,” katanya kepada wartawan, Jumat (11/5).

Menurut dia, khusus untuk Gunung Merapi, letusan freatik memang biasa terjadi tanpa tanda apapun. Kondisi ini hanya berlaku pada Merapi dan tidak pada gunung berapi lain.

Ia menjelaskan, letusan freatik karena tersumbatnya conduit atau saluran dalam gunung oleh sisa material letusan 2010. 

Gas-gas yang terhambat keluar pun memadat bersama uap air. Karena tekanan panas dari kawah, letusan pun terjadi.

“Karena itulah tim pemantau tidak melihat adanya getaran pada dinding kawah hingga terjadi letusan freatik. Besarnya tekanan panas kawah menyebabkan letusan hingga ketinggian 5,5 kilometer dan berisikan uap air dan debu,” jelasnya.

Menurut Hanik, letusan freatik hanya berlangsung sebentar dan tidak menimbulkan ancaman bahaya seperti letusan magmatik. Letusan pagi ini berlangsung selama lima menit.

Dengan kemajuan teknologi,  Hanik berharap gejala-gejala letusan freatik di Gunung Merapi bisa terbaca sehingga keluar peringatan pada semua pihak.

Tidak adanya tanda dan gejala sebelum letusan freatik juga diungkapkan juru kunci Gunung Merapi, Masbekel Anom Suraksosihono atau Mbah Asih.

Mbah Asih mengatakan sebelum letusan, sekitar 500 warga Kinahrejo akan menggelar tradisi nyadran di makam setempat.

“Saat hampir sampai makam, tiba-tiba terdengar letusan dari arah kawah dan terjadi hujan abu. Karena panik, beberapa orang sempat jatuh namun tidak sampai terluka,” kata Mbah Asih saat dihubungi.

Ia bercerita, beberapa warga memutuskan langsung pulang atau menjemput anak di sekolah dan sebagian sempat berlindung di masjid. Acara nyadran pun diputuskan ditunda.

Berbeda dengan letusan pada 2010, menurut Mbah Asih, letusan freatik Jumat pagi ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda.


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
11-05-2018 20:08