Main Menu

Dua Dekade Reformasi, Pendidikan Pancasila Terpinggirkan

Mukhlison Sri Widodo
11-05-2018 20:13

Yudi Latif dalam sebuah dalam sebuh diskusi (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai selama 20 tahun sejak Reformasi, pendidikan Pancasila di semua jenjang terpinggirkan. 

 

Padahal Pancasila seharusnya menjadi pelajaran dasar  untuk membentuk simpul persatuan bangsa.

Kepala BPIP Yudi Latief melihat kondisi ini membuat saat ini nilai-nilai Pancasila sama sekali tidak dianggap oleh anak bangsa.

“Terutama di kampus-kampus dan perguruan tinggi. Dari berbagai survei yang dilakukan, ideologi Pancasila ini di kampus dan perguruan tinggi semakin terpinggirkan, digantikan ideologi lain bahkan radikalisme,” kata Yudi di Universitas Atma Jaya (UAJ) DI Yogyakarta, Jumat (11/5).

Bersama Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Jakarta Kardinal Julius Darmaatmadja dan dosen UAJ Bernadus Wibowo Suliantoro, Yudi menjadi pembicara dalam seminar ‘Pancasila sebagai Orientasi Mewujudkan Peradaban Kasih’.

Menurut Yudi, peran pendidikan dalam menyebarkan Pancasila sangat penting. Sebab Pancasila tidak bisa dibiarkan hidup dan berkembang sendiri.

Yudi mengatakan, sejak diresmikan sebagai ideologi bangsa Indonesia, Pancasila harus terus ditanam, disemaikan, dan dikembangkan sesuai tuntutan zaman.

“Saat ini Pancasila memerlukan penyegaran ulang agar lebih dikenal oleh generasi muda. Pancasila harus menjadi sebuah simpul yang diterima oleh seluruh masyarakat yang mengharga keberagaman,” lanjutnya.

Karena itu, Yudi meminta kepada seluruh pemangku pendidikan baik dasar, menengah pertama, menengah atas, sampai perguruan tinggi untuk tidak lagi menjadikan Pancasila hanya sebagai ornamen. 

Namun wajib menjadikan Pancasila sebagai pendidikan fundamental yang menautkan kebersamaan.

Sebagai lembaga yang fokus pada pola pendidikan Pancasila, menurut Yudi, BPIP tak lagi berkutat pada teori. BPIP sudah meluncurkan program-program yang bertujuan menghidupkan kembali Pancasila.

Salah satunya program pertukaran pelajar dari berbagai komunitas sebagai upaya menghargai perbedaan sesuai nilai Pancasila. 

Selain itu, pogram kuliah Pancasila yang mendapuk tokoh-tokoh organisasi besar menceritakan sudut pandang dan alasannya menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa.

“Kemudian ada program menghidupkan semangat gotong royong sesuai nilai Pancasila ke petani yang hari ini kami lakukan di Kulon Progo,” ujarnya.

Kardinal Julius Darmaatmadja mengatakan bahwa ideologi Pancasila beserta nilai-nilainya menjadi titik temu bagi pihak gereja untuk berkomunikasi dengan umat agama lain.

“Dengan Pancasila, gereja membangun peradaban kasih yang luhur dan manusiawi sesuai ajaran Tuhan. Peradaban kasih inilah yang menjadi dasar negara Indonesia kuat,” jelas dia saat acara.

Dengan begitu,  Julius berkata, ketika semua umat beragama bersama-sama mengamalkan Pancasila, itu sama artinya dengan membangun dan memperkokoh peradaban kasih demi membangun Indonesia.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
11-05-2018 20:13