Main Menu

Kementerian PUPR Perbaiki Titik Rawan Longsor di Maluku Jelang Mudik Lebaran

Flora Librayanti BR K
04-06-2018 07:53

Kementerian PUPR perbaiki titik rawan longsor di Maluku. (GATRA/MEF/FT02))

Seram, Gatra.com – Idul Fitri atau lebaran tinggal menunggu hari. Biasanya masyarakat Indonesia merayakan momen tersebut dengan mengunjungi sanak saudara di kampung halaman atau mudik. Kondisi demikian, juga dialami oleh masyarakat di Pulau Seram, Maluku.

 


Ruas Waipia - Saleman, jalan nasional sepanjang 42 km, adalah satu-satunya lintasan jalan yang menguhubungkan antara Seram Bagian Timur dengan kota Ambon. "Ini satunya-satunya akses jalan dari Seram bagian timur ke Ambon. Jadi kalau terputus, tidak ada alternatif lain," kata Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah 2 Maluku, Dharma Putra Kepada Gatra.com ketika meninjau lintas trans Maluku tersebut, Minggu (03/06).


Sayangnya, kondisi jalan trans Maluku antara Waipia - Saleman rawan tanah longsor. Dharma merinci, berdasarkan daftar invetarisasinya ada 23 titik longsor baik kecil hingga sedang di ruas tersebut. Longsor tersebut disebabkan karena masih didapatinya aktivitas penebangan hutan secara ilegal, yang menyebabkan kontur tanah menjadi terganggu atau tidak stabil.


"Ini daerah illegal logging. Mereka menumpuk batang-batang (pohon) itu, sehingga sekarang lagi proses pembusukan. Makanya terjadi patahan (kontur tanah) seperti itu," ujar Dharma.


Meski demikian, ia mengatakan, upaya penanganan ruas jalan yang terkena tanah longsor terus dilakukan. Salah satu antisipasinya adalah dengan menyiapkan alat berat 24 jam, guna menjamin agar jalur mudik tersebut tidak terputus.


"Kita siagakan 24 jam alat beratnya. Penanganan kemarin, bahkan kita mampu selesaikan hanya dalam waktu empat jam, walaupun harus diakui masih dalam kondisi fungsional, " ia menjelaskan.


Selain itu, upaya lain Kementerian PUPR adalah terus berkoordinasi dengan stakeholder, baik Pemkot maupun Dinas Kehutanan. Tujuannya, agar menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi menebang hutan secara ilegal.


"Karena illegal logging, dampaknya buruk pada jalan. Apalagi masyarakat sendiri yang paling dirugikan," imbuhnya.


Oleh karena itu, ia menghimbau, agar masyarakat ikut serta bergotong royong menjaga dan merawat jalan raya. "Kita semua harus sama-sama memiliki kesadaran untuk ikut merawat, karena kan manfaatnya juga sudah banyak dirasakan oleh masyarakat," katanya lagi.


 
Reporter : MEF
Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
04-06-2018 07:53