Main Menu

Moeldoko: Seni Menjaga Nilai Luhur Bangsa

Ervan
23-06-2018 13:57

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko. (Dok. KSP/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko menilai di tengah arus globalisasi yang melenyapkan norma dan etika, seni bisa menjadi penjaga agar keluhuran budaya lokal bangsa Indonesia tidak hilang. Pemerintah pun wajib memfasilitasi dan mendukung upaya pelestarian seni dalam negeri.

 

"Anak-anak muda perlu dikenalkan kepada budaya-budaya lokal, sehingga tidak tercerabut identitas budaya dan sosialnya. Hal ini sangat penting," kata Moeldoko, sebelum mendampingi Presiden Joko Widodo menjalani rangkaian perjalanan dinas ke Jawa Timur dan Bali.

Berdasarkan agenda yang diterima dari biro Pers Istana, Sabtu (23/6) ini, Presiden Joko Widodo dan Moeldoko akan berkunjung ke Bali. Salah satu agenda di sana adalah memberikan kuliah umum di Institut Seni Indonesia dan juga membuka Pesta Kesenian Bali (PKB). 

Moeldoko menegaskan, pelestarian seni dan budaya merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesatuan bangsa. Di mana salah satu ciri terjadinya perang kebudayaan adalah munculnya upaya masif untuk menghilangkan keyakinan atau ideologi sebuah bangsa.

Oleh karenanya, untuk menghadapi ancaman itu, terutama dengan makin maraknya hoaks, berita palsu dan ujaran kebencian yang berkembang begitu garang, pemerintah ingin masyarakat tidak limbung, was-was, atau skeptis. Sebaliknya, rakyat harus menjaga dan memperkuat keyakinan dan konsensus yang telah didirikan para ‘founding fathers’ bangsa ini. 

"Melalui seni, kita sungguh amat berharap agar nilai-nilai luhur bangsa itu, terus terjaga," kata Moeldoko.

Mantan Wakil Gubernur Lemhanas ini memaparkan, berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi telah menjadi ‘payung’ dan tongkat penuntun bagi seluruh rakyat Indonesia. 

"Kebijakan BBM Satu Harga, misalnya. Itu adalah upaya hadirnya sebuah negara untuk melindungi masyarakatnya tanpa terkecuali," ucapnya. 

Pada kesempatan terpisah, anggota Komisi X DPR, Nizar Zahro juga mendukung penguatan budaya lokal agar tidak hilang lantaran derasnya arus globalisasi. Artinya, kebudayaan yang dimiliki masing-masing daerah dipertahakankan menjadi kultur permanen sehingga tidak terkikir jika ada budaya asing masuk. 

Bagaimana mempertahankannya? Dijelaskan Nizar, masing-masing daerah wajib mempertayangkan budayanya dengan cara seperti pameran budaya di daerah untuk menarik wisata domestik dan luar negri. “Pameran juga untuk mengenalkan kepada anak cucu kita,” katanya lewat pesan singkat, Sabtu (23/6).

Yang lebih penting lagi, lanjut Nizar, budaya yang ada di Indonesia harus didaftarkan di Unesco sehingga tidak diklaim bangsa lain. Contoh yang ia sebut adalah reog ponorogo yang diklaim Malaysia, begitu juga nasi padang. “Makanya harus kita daftarkan di Unesco untuk mempertahankan budaya lokal kita,” sarannya.

Selain itu, Nizar juga menyarankan kepada pemerintah membuat kebijakan kepada seluruh daerah untuk membuat kurikulum budaya di mata pelajaran. Baik itu tingkat SD, SMP dan SMA dalam rangka mengenalkan kebudayaan. “Sehingga di masing-masing daerah ada 10 persen kurikulum yang menyangkut kebudayaan," pungkasnya.

 


Reporter: Ervan Bayu

Editor     : Cavin R. Manuputty

 

 

Ervan
23-06-2018 13:57