Main Menu

Variabel Abu-Abu di Pilkada Yang (Tidak) Rasa Pilpres

Aditya Kirana
29-06-2018 14:11

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya. (Dok.Charta Politika/RT)

 

 

Jakarta, Gatra.com - Hasil hitung cepat pada pilkada serentak sudah bisa diakses publik. Hasilnya, hampir seluruh lapisan masyarakat menilai bahwa pilkada kali ini merepresentasikan pemilihan presiden tahun depan. Tapi tidak dengan Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika.


Dia mengatakan bahwa simbolisasi pertarungan pilpres sebenarnya hanya ada di pilkada Jabar, Jateng dan Sumut. Begitu juga dengan Jatim. Yunarto meyakini bahwa kedua kandidat di Jatim, Khofofah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf, memiliki kedekatan dengan Jokowi.


Secara kepartaian memang Jokowi mendukung Gus Ipul namun dari sisi kedekatan, suka atau tidak, Khofifah pernah menjadi menteri di kabinet Jokowi. “Bahkan partai pendukung Jokowi jelas ada yang mendukung Khofifah,” ujarnya.

Di Sulawesi Selatan, hampir sama seperti Jatim, kedua pasangan calon, Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah, memiliki kedekatan dengan Jokowi. “Sehingga agak sulit untuk dikorelasikan dengan pilpres,” katanya.


Di Sumut, misalnya, Edy Rahmayadi dikenal dekat dengan Gatot Nurmantyo dan Sudirman Said di Jateng yang dianggap merepresentasikan kekuatan oposisi seperti Anies Baswedan di DKI Jakarta.

Yunarto menepis anggapan bahwa apa yang terjadi di pilkada serentak akan merepresentasikan pertarungan pilpres mendatang.


Menurutnya, pilkada lebih dimainkan oleh personal branding dari masing-masing calon kepala daerah. “Tidak serta merta bisa dikatakan mewakili pertarungan 2019,” katanya.


Yunarto menambahkan, faktor pilpres 2019 masih menjadi faktor sekunder meski memang ada pengaruh dengan anggapan bahwa kepala daerah bisa mengamankan suara di pilpres. “Tapi tetap ada faktor-faktor lain,” katanya.

Dia juga tidak terlalu meyakini adanya kekuatan coattail effect dari Jokowi maupun Prabowo pada kontestasi pilkada.  Misalnya, elektabilitas Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar itu adalah hasil dari personal branding dan kekuatan jaringan politik mereka. “Tidak serta merta karena Emil mendukung Jokowi atau Deddy Mizwar mendukung AHY misalnya,” katanya.

Hal ini juga termasuk dengan TB Hasanudin yang seharusnya merepresentasikan mesin politik Jokowi justru tingkat pengenalannya rendah. Sama seperti Sudrajat yang sudah jelas mengharap coattail effect dari Prabowo ketika debat terbuka mengatakan 2019 ganti presiden, ternyata pada elektabilitasnya masih stagnan. “Tetap ada variabel primer lain,” katanya.


Jadi memang tidak ada pengaruhnya antara kemenangan pilkada dengan amannya Jokowi melenggang dua periode. Hal ini, kata Yunarto, dibuktikan dengan masih tingginya keterpilihan PDI P dalam tiap sigi.

Di Sumut, kata Yunarto, bisa menjadi simbol pertarungan pilpres. Karena jika saja Edy Rahmayadi memenangi pilkada, itu bisa merepresentasikan kekuatan yang melawan pemerintah bisa menang secara simbolik.


Namun masih ada beberapa variabel abu-abu. “Nasdem dan Golkar kan mendukung Edy,” katanya. Ini kemudian membawa wilayah abu-abu yang memecahkan pendapat bahwa ini adalah pertarungan hitam – putih. “Ini mungkin juga sudah dimainkan Jokowi sendiri,” katanya.


 

Reporter: Aditya Kirana

Editor: Rosyid

Aditya Kirana
29-06-2018 14:11