Main Menu

PBNU : Masjid Tempat Motivasi, Bukan Provokasi

Abdul Rozak
09-07-2018 11:10

Agus Muhammad (baju putih) ketua Dewan Pembina P3M PBNU (GATRA/Abdul Rozak/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyesalkan masjid di Jakarta menjadi tempat lahirnya bibit-bibit radikal dan intoleran. Terlebih dua paham itu disebarkan melalui khotbah Solat Jumat. Itu berdasarkan survei yang dilakukan pada akhir tahun lalu.

Hal tersebut diungkapkan Ketua PBNU KH Manan Abdul Manan Gani , menanggapi temuan 41 masjid kementerian, lembaga negara dan BUMN di Jakarta terindikasi disusupi paham radikal. 

"PBNU sangat menyesalkan temuan itu. Ujaran kebencian, sikap intoleran dan radikal justru banyak dijumpai di masjid lingkungan kantor pemerintah," kata Abdul Manan Gani di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Minggu (8/7/2018).

Lebih lanjut, Manan Gani menjelaskan bahwa masjid kementerian, lembaga negara dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibangun menggunakan uang yang berasal dari APBN. Oleh karena itu, PBNU mendesak pemerintah mengawasi masjid kementerian, lembaga negara dan BUMN. 

"Masjid itu harus jauh dari nilai-nilai arogansi dan provokasi. Lebih baik masjid jadi tempat saling memotivasi dalam hal taqwa," ujarnya. 

Diberitakan, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) PBNU dan Rumah Kebangsaan merilis hasil survei soal menguatnya gerakan radikal dan intoleran di Indonesia. Survei dilakukan tanggal 29 September sampai 21 Oktober 2017. 

Selama satu bulan setiap hari Jumat, dilakukan pengambilan data berupa brosur, buletin, materi bacaan lainnya, rekaman dan video khutbah Solat Jumat untuk otentikasi data survei.

"Ada 100 masjid yang disurvei, terdiri 35 masjid di kementerian, 28 masjid lembaga dan 37 masjid BUMN. Dari 100 itu, sebanyak 41 masjid terindikasi sudah disusupi paham radikal dan intoleran," kata Ketua Dewan Pembina P3M Agus Muhammad.


Reporter: Abdul Rozak

Editor: Aries Kelana

 

Abdul Rozak
09-07-2018 11:10