Main Menu

Sejarah KAA Jadi Rapor Hijau Permudah Indonesia Masuk DK Tak Tetap PBB

Birny Birdieni
14-07-2018 15:48

Talk with #MenluRetno di Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Jalan Asia Afrika, Bandung (GATRA/Birny Birdieni/yus4)

Bandung, Gatra.com- Rekam jejak Indonesia dalam  menggagas Konferensi Asia  Afrika menjadi salah satu faktor yang membuat suara mayoritas negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa memilih Indonesia menjadi Anggota Tidak Tetap di Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk periode 2019-2020."


Ini perjuangan yang tidak mudah," ujar Retno dalam acara talk with #MenluRetno di Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Jalan Asia Afrika, Bandung, Sabtu (14/7). Namun Indonesia mendapat cukup dukungan yang positif, karena dari total 190 suara ada 144 suara yang memilih.

Dunia melihat dengan penyelenggaraan KAA pada tahun 1955, Indonesia yang ketika itu baru 10 tahun merdeka sudah bisa menggunakan ajang yang akhirnya menggerakan negara berkembang dan baru merdeka.

"Jadi kebanggaan dan punya harga diri. Semangat itu ingin dikembangkan," ungkap Retno. Selain rapor hijau KAA, Retno juga memaparkan Indonesia sebagai negara oke dengan penduduk paling banyak nomor empat.

Sebagai muslim paling besar di dunia dengan kemajemukan suku bangsa dan bahasa. "Dengan toleransi tinggi, demokratis dan menghargai Hak Asasi Manusia," ujar Retno.

Pekerjaan rumah Indonesia adalah mengemban amanah sebagai DK PBB itu. "Harus betul miliki posisi. Indonesia harus teruji, mudah-mudahan 2018 adaptasi dan Januari mulai bisa masuk," pungkasnya.


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
14-07-2018 15:48