Main Menu

BPS: Penduduk Miskin Turun

Rosyid
16-07-2018 15:06

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.(ANTARAnews/re1)

Jakarta, Gatra.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia Maret 2018 turun 1,82 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total jumlah penududuk miskin mencapai 25,95 juta orang atau 9,82 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, tercatat 27,77 juta orang masuk kategori penduduk miskin atau 10,64 persen dari populasi.

"Persentase kemiskinan 9,82 persen ini paling rendah dibandingkan periode terdahulu," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, (16/7) kepada Antara.

BPS mencatat selama kurun itu jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 10,14 juta (7,02 persen) dan di perdesaan 15,81 juta (13,2 persen). Angka-angka itu lebih rendah ketimbang kondisi pada Maret 2017, ketika jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 10,67 juta (7,72 persen) dan di perdesaan 17,1 juta (13,93 persen).

Sementara pada September 2017, jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 10,27 juta atau 7,26 persen dan di perdesaan 16,31 juta atau 13,47 persen.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan, menurut BPS, terdiri atas beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan dan gula pasir.

"Sedangkan komoditi nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi," kata Suhariyanto.

Suhariyanto menjelaskan faktor-faktor yang terkait dengan tingkat kemiskinan ini antara lain inflasi umum periode September 2017-Maret 2018 sebesar 1,92 persen dan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk rumah tangga 40 persen terbawah pada periode sama yang tumbuh 3,06 persen.

Faktor selanjutnya adalah pemberian bantuan sosial tunai dari pemerintah yang tumbuh 87,6 persen pada triwulan I-2018 dibandingkan 3,39 persen pada triwulan I-2017, serta program beras sejahtera dan bantuan pangan non tunai yang pada periode sama telah tersalurkan sesuai jadwal.

Berdasarkan data Bulog, realisasi distribusi bantuan sosial program beras sejahtera pada Januari 2018 tercatat 99,65 persen, pada Februari 2018 sebesar 99,66 persen dan pada Maret 2018 sebesar 99,62 persen.

"Harga beras pada September 2017-Maret 2018 sempat mengalami kenaikan 8,57 persen, namun beras rastra dan bantuan sosial yang diberikan tepat waktu, ikut menyebabkan terjadinya penurunan kemiskinan, meski tidak secepat periode Maret 2017-September 2017," ujar Suhariyanto.

BPS juga mencatat persentase penduduk miskin terbesar masih berada di wilayah pulau Maluku dan Papua (21,20 persen) diikuti Bali dan Nusa Tenggara (14,02 persen) dan yang terendah di Kalimantan (6,09 persen).

Namun, dari sisi jumlah, sebagian besar penduduk miskin masih berada di Jawa (13,34 juta), diikuti Sumatera (5,9 juta), Sulawesi (dua juta) dan yang paling rendah berada di Kalimantan (982,3 ribu).

Lima provinsi yang mengalami penurunan persentase penduduk miskin tertinggi adalah Jawa Tengah (0,91 persen), Sulawesi Selatan (0,43 persen), Jawa Barat (0,38 persen), Banten (0,36 persen) dan Sulawesi Tenggara (0,35 persen).

Sedang lima provinsi yang mengalami kenaikan persentase penduduk miskin di antaranya Jambi (0,03 persen), Aceh (0,05 persen), Sulawesi Barat (0,07 persen), Kepulauan Riau (0,08 persen) dan Lampung (0,10 persen).


 

Editor: Rosyid

Rosyid
16-07-2018 15:06