Main Menu

Konsep Islam Nusantara Berkemajuan Harus Tampil ke Dunia

Mukhlison Sri Widodo
17-07-2018 20:33

Islam Indonesia bisa tampil ke dunia. (GATRA/Arif Koes/RT)

Yogyakarta, Gatra.com - Para pakar sosiologi agama menyatakan konsep "Islam Nusantara yang Berkemajuan" bisa menjadi identitas bagi Islam di Indonesia untuk tampil ke dunia.

 

Konsep ini harus menjadi representasi Islam yang damai di dunia dan melawan gerakan politik Islam transnasional yang menampik keberagaman.

“Islam Nusantara Berkemajuan adalah identitas Islam di Indonesia yang berasal dari dua organisasi Islam besar yang sudah mengakar di masyarakat, NU dan Muhammadiyah,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Keaagamaan Internasional, Siti Ruhaini Dzuhayatin, di Yogyakarta, Selasa (17/7).

Siti menjadi pembicara kunci dalam seminar bertema ‘Keberagaman di Era Pasca-Kebenaran dalam Prespektif Agama’ sebagai bagian konferensi sosiologi agama di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Menurut  Siti,  Islam berkembang di Indonesia yang ditakdirkan menjadi negeri yang beragam dan multikultural. Dengan kondisi itu, sentimen-sentimen negatif atas dasar agama demi kepentingan politik sebenarnya tak diperlukan. Sentimen agama  yang marak di era pasca-kebenaran (post truth) saat ini digunakan politisi  sebagai modal untuk mencapai kekuasaan.

Padahal Islam di Indonesia sebenarnya memiliki nilai wasatiyah atau moderat seperti dikembangkan NU dan Muhammadiyah. Konsep ini sebenarnya mampu menjawab tantangan dunia dan kondisi Islam saat ini.

Sayangnya selama ini Indonesia kurang mengangkat konsep tersebut ke kancah global dan justru merasa inferior atau rendah diri dengan keislamannya.

Siti melihat, dunia justru mengidentikkan Islam dengan negeri-negeri Timur Tengah yang selama ini dirundung konflik.

Situasi ini mestinya menjadi peluang Indonesia untuk megenalkan konsep Islam wasatiyahnya. 

“Nilai wasatiyah dalam konsep Islam Nusantara yang Berkemajuan bisa mengisi kekosongan Islam yang damai yang terkoyak konflik di Timur Tengah,” tuturnya.

Adapun Guru Besar Program Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Al Makin mengatakan konsep "Islam Nusantara yang Berkemajuan"  bisa menjadi obat mujarab mengatasi gerakan politik Islam transnasional yang menghilangkan batas negara dan menolak keberagaman.

“Islam transnasional yang menginginkan kesatuan umat muslim dunia dan tidak mengenal keberagama inil menyebabkan lahirnya radikalisme dan sentimen agama,” katanya.

Menurut dia, di tengah gempuran informasi yang memutarbalikkan fakta dan memecah belah, saatnya Indonesia mengambil peran melahirkan pandangan Islam yang menerima keberagaman.

Keberagaman Indonesia yang diakui dunia menjadi modal besar Indonesia untuk melakukan pembaruan pandangan Islam yang tak bisa dilakukan di negeri-negeri Islam di Timur Tengah.

Konferensi sosiologi agama ini berlangsung pada 16-18 Juli 2018 dan dibuka oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi. 

Selain seminar ini, konferensi juga diisi dengan simposium berupa pemaparan hasil riset peneliti, dosen, dan mahasiswa Fakultas Ushluhuddin dan Pemikiran Islam atas fenomena baru keberagamaan di era pasca-kebenaran.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
17-07-2018 20:33