Main Menu

Ini Pesan Senior PDIP Untuk Cawapres Jokowi

Cavin Rubenstein M.
20-07-2018 15:01

Jokowi bersama Kader senior PDI Perjuangan, Sidarto Danusubroto (Dok.Gatra/Dharma Wijayanto/afn)

Jakarta, Gatra.com – Bisa bekerja, menjaga negara, dan diterima semua golongan adalah syarat yang harus dipertimbangkan Presiden Joko Widodo dalam memilih pasangan calon wakil Presidennya nanti. Kader senior PDI Perjuangan, Sidarto Danusubroto yakin bahwa Jokowi akan memilih sosok terbaik untuk rakyat.

 

“Jokowi sekarang diwarisi Indonesia yang harus tetap dijaga dari tangan-tangan preman,” kata Sidarto kepada wartawan, Jumat (20/7) pagi. Menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu, sosok terbaik adalah yang memiliki idealisme seperti Bung Karno.

Sejauh ini, ia menganggap nama-nama yang beredar seperti Mahfud atau Moeldoko, sudah cukup baik untuk mendampingi Jokowi. Namun, dari dua nama ini, Sidharto menjagokan yang punya kapabilitas menjaga kedaulatan Indonesia secara komprehensif. “Tapi yang paling cocok adalah yang bisa menjaga [Indonesia], dan bisa diterima seluruh partai,” ujar politikus yang pernah menjadi ketua MPR di 2013-2014 lalu.

Pada kesempatan terpisah, Karyono Wibowo, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute menilai, Mahfud MD adalah sosok yang pas. Ia punya pengalaman legislatif sebagai anggota DPR dari PKB, pengalaman eksekutif sebagai Menteri Pertahanan di kabinet Gus Dur, dan pengalaman yudikatif sebagai ketua Mahkamah Konstitusi.

Tetapi, pengalaman di tiga unsur negara itu, menurutnya tidak bisa menjadi tolok ukur kecakapan Mahfud. “Dia cuma sebentar jadi menteri, jadi tidak terlihat perannya ketika itu,” kata Karyono ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (19/7). Pun karir Mahfud di yudikatif yang paling lama, tidak bisa menjadi tolok ukur kemampuannya mengelola negara seandainya ia menjadi wakil presiden nanti.

Di sisi lain, ada juga kelemahan yang bisa mengganjal Mahfud. Misalnya irisan pemilih dirinya dengan Presiden Jokowi. Berdasarkan hasil survei yang ia lakukan beberapa waktu lalu, terlihat bahwa mayoritas Nahdliyin memang sudah bersimpati pada Jokowi. Dari hal ini, bisa diproyeksikan bahwa Mahfud tidak menambah jumlah pemilih pada Jokowi.

“Kalau NU dan kyai tidak clear mendukung Mahfud, maka itu jadi kelemahan elektoralnya,” kata Karyono lagi. Apalagi dalam konteks bursa Cawapres, Mahfud akan bersaing dengan ketua umum PKB Muhaimin,” katanya.

Kemungkinan pula, keberadaan Mahfud bisa jadi akan membuat massa Muhammadiyah menyeberang ke kubu lawan Jokowi. Kondisi ini juga berlaku bila Jokowi memilih Cak Imin. Oleh karena itu, Karyono mengatakan bahwa sebaiknya Jokowi memilih pendamping yang bisa diterima oleh semua arus utama kelompok Islam. Baik itu NU atau Muhammadiyah. “Daripada memecah belah dukungan yang semula solid, lebih baik Jokowi pilih orang luar yang bisa diterima semua kalangan. Tanpa harus merasa salah satu lebih diutamakan,” beber Karyono.

Menurutnya, Jokowi harus bisa mempertimbangkan untuk tidak membuat partai merasa ada pihak yang lebih dianakemaskan.

Kecemburuan antar partai, malah bisa membuat koalisi pendukung Jokowi rapuh. Berangkat dari pemahaman tersebut, ia menyarankan agar Jokowi tidak sekadar mengukur kandidat pendampingnya dari segi elektabilitas atau akseptabilitas publik. Melainkan juga akseptabilitas elit.


 

Editor  : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
20-07-2018 15:01