Main Menu

Jaga Komitmen Deforestasi, Asian Agri Klarifikasi Laporan eyes on the Forest

Fitri Kumalasari
20-07-2018 23:24

Kelapa sawit (GATRA/Erry Sudiyanto/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Asian Agri memastikan untuk tetap menjaga komitmen mereka memproduksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Hal itu ditegaskan Asian Agri menyusul adanya  laporan Eyes on the Forest (EoF) atas perusahaan-perusahaan besar kelapa sawit, dimana salah satu yang disebut yaitu Asian Agri. 

Dalam laporan itu, disebutkan bahwa Asian Agri diketahui  membeli Tandan Buah Segar (TBS) ilegal dari kawasan taman nasional di Sumatera dan sekitarnya. Namun, juru bicara Asian Agri Bernard Riedo membantah laporan tersebut.  

Dalam keteranganya kepada Gatra.com, Pihak Asian Agri mengungkapkan pada tanggal 21 Mei 2018, EoF meminta klarifikasi kepada mereka terkait temuan yang akan dipublikasikan dalam laporan EoF kedua. Pada tanggal 25 Mei 2018, Asian Agri pun telah mengirimkan surat balasan yang berisi klarifikasi serta bukti atas temuan dari EoF yang menyatakan PT Inti Indosawit Subur (Ukui 1) menerima 1,5 ton TBS dari Taman Nasional Tesso Nilo pada tanggal 17 Juni 2017.

Asian Agri langsung melakukan investigasi ke lokasi pada tanggal 23 Mei 2018 dan meneliti rekam jejak laporan rantai pasok untuk mengumpulkan data sekaligus meninjau kembali laporan pada tanggal 17 Juni 2017 untuk memastikan kesesuaian data. “Kami telah mengambil langkah tegas untuk permasalahan ini yaitu dengan menangguhkan truk pemegang Order Pengiriman (DO) yang dilaporkan pada 24 Mei 2018,” ujar Bernard.

 

Asian Agri sendiri memastikan diri terus berkomitmen memproduksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. “Kami memiliki sistem untuk memastikan seluruh proses pengadaan dan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasokan kami mematuhi kebijakan keberlanjutan dan komitmen kemampuan telusuran rantai pasok (traceability) perusahaan.”

 

Produsen minyak sawit terkemuka di Indonesia ini memiliki Traceability Master Database dari seluruh rantai pasokan pihak ketiga. Hal ini memungkinkan Asian Agri memantau sumber pasokan yang masuk ke perusahaan. Para petani mitra telah menandatangani surat pernyataan dengan perusahaan yang mengikat pemasok TBS hanya dari wilayah legal. Ini penting untuk mencegah masuknya TBS ilegal dalam pasokan mereka ke pabrik. Asian Agri telah mencapai 100% kemampuan telusuran rantai pasok TBS ke perkebunan sejak 2017.

 

Sebelumnya, dalam laporan teranyar EoF yang diterima gatra pada 19 Juli lalu, masih saja terdapat pasokan sawit yang ditanam ilegal ditampung perusahaan-perusahaan besar. Berbagai rangkaian investigasi ini mengungkapkan bagaimana kelapa sawit dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dapat masuk sebagai rantai pasokan pada tahapan yang berbeda dari empat perusahaan kelapa sawit – Royal Golden Eagle (RGE) Apical, Wilmar, Musim Mas, dan Golden Agri Resources. 

 

Pada laporan terbaru, grup RGE tampak terlibat langsung, karena grup perusahaan Asian Agri beroperasi pada satu perusahaan yang ditemukan membeli TBS dari taman nasional. Wilmar juga terus membeli dari salah satu perusahaan tersebut; perusahaan yang mereka jual di tahun 2014 setelah laporan WWF pada tahun 2013 menemukan perusahaan tersebut membeli TBS dari Tesso Nilo.

 

Meskipun telah melakukan upaya terbaik, kemampuan telusuran rantai pasok minyak kelapa sawit tetap menjadi tantangan di seluruh industri. Asian Agri berkomitmen untuk terus mengimplementasikan praktik-praktik keberlanjutan serta bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan. “Kami akan terus memberikan edukasi dan memperkuat jaringan pemasok pihak ketiga kami untuk memastikan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap sumber pasokan yang hanya diambil dari wilayah legal,” tegas Bernard



Reporter: Fitri Kumalasari

Editor: Hendri

Fitri Kumalasari
20-07-2018 23:24