Main Menu

Tim Mabes Polri Geruduk Kebun Sawit di Riau

Bernadetta Febriana
28-07-2018 13:49

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit (Dok. Gatra/yus4)

Pekanbaru, gatra.com - Tiga hari belakangan, sejak Kamis (26/07) suasana di Dusun Alim II Desa Alim Kecamatan Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau, mencekam. Warga yang sehari-hari berkebun kelapa sawit di kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) itu lebih memilih "menghilang' dibanding harus kembali ke kebun kelapa sawit.

Ini terjadi setelah tak kurang dari 20 orang polisi mendatangi kawasan perkebunan kelapa sawit itu. Sebagian adalah tim dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) yang dikomandani oleh seorang perwira menengah berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol). 

Belum diketahui secara pasti apa tujuan tim yang dijejali para perwira menengah itu datang ke sana. Polisi Polres Inhu pun cukup pelit memberikan informasi soal kedatangan tim tadi. "Kita mendukung betul langkah yang dilakukan tim sampai tuntas. Ada 10 orang personil kami yang diterjunkan untuk membantu. Ini sesuai permintaan tim," kata Kapolres Inhu, AKBP Dasmin Ginting melalui pesan singkat kepada ‪Gatra.com‬, kemarin. 

Kepala Seksi Badan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPLHK) Wilayah Sumatera Eduard Hutapea mengatakan kalau pihaknya tahu atas kedatangan polisi dari Mabes Polri tadi. 

"Kemarin ada koordinasi. Tapi yang di lapangan, komandonya langsung dari Mabes. Kami tidak ikut di sana. Hanya  polisi," ujar Edward dalam pesan WhatsApp yang diterima ‪Gatra.com‬ kemarin.    

Edward kemudian mengatakan kalau kedatangan polisi tadi terkait kebun kelapa sawit yang berada di kawasan hutan. " Setahu saya, sasarannya bukan petani perorangan, tapi ada cukong yang backing dari Jakarta seolah-olah itu petani tempatan," katanya. 

Hingga berita ini dilansir, sudah lebih dari 20 orang warga yang sudah diperiksa polisi. Ada yang diperiksa di lokasi dan ada pula yang digelandang ke Polsek Batang Cenaku. Dan hingga kini, polisi masih berada di lokasi. 
Organisasi Lingkungan Hidup semacam Yayasan Riau Madani mengapresiasi kedatangan tim dari Mabes Polri tadi. "Jauh-jauh datang dari Jakarta untuk kemudian masuk ke pelosok, itu sesuatu yang luar biasa. Tapi ada baiknya yang disigi itu kebun-kebun kelapa sawit yang luasannya ribuan hektar yang justru berada di kawasan hutan lindung. Pemiliknya juga sudah jelas, perusahaan," kata Ketua Umum Yayasan Riau Madani, Surya Dharma‪,‬ Sabtu (28/7) di Pekanbaru. 

Surya kemudian merinci kalau sampai hari ini, lebih dari 5000 hektar kebun kelapa sawit berada di hutan lindung. "Ada 4000 hektar kebun kelapa swit di Hutan Lindung Mahato, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Kebun kelapa sawit ini milik Koperasi Mahato Bersatu. Bapak angkatnya PT Torganda. Lalu ada pula kebun kelapa sawit milik PTPN V di Hutan Lindung Bukit Suligi Rohul seluas 129 hektar, di hutan lindung Bukit Suligi Kampar 245 hektar. Itu milik PT Padasa Enam Utama. Terus ada lagi kebun kelapa sawit milik PTPN V seluas 1400 hektar di Hutan Produksi di Air Molek Inhu. Semua ini sudah kami telusuri," terang Surya. 

Terkait hanya polisi yang datang ke Desa Alim, Surya juga mempertanyakan. "Mestinya untuk penegakan hukum di sektor kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atau Dinas Kehutanan Provinsi ikut di dalam tim itu. Ini sangat penting lantaran yang mengerti soal status kawasan itu, adalah pihak kehutanan," ujarnya.


Reporter : Abdul Aziz (Pekanbaru)

Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
28-07-2018 13:49