Main Menu

Daya Jelajah Harimau Sumatra Semakin Terdesak

Muchammad Egi Fadliansyah
30-07-2018 18:31

Harimau berstatus kritis saat ini, hanya tersisa 3.900 individu harimau liar di dunia. (Dok.WWF-Indonesia/RT)

 

Jakarta, Gatra.com - Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day yang diperingati setiap 29 Juli menjadi momen penting bagi pelestarian harimau, khususnya di Indonesia. Pasalnya Indonesia merupakan salah satu habitat baggi jenis Harimau Sumatera. Sayangnya, menurut Peneliti Wildlife Ecologist WWF Sunarto, populasi Harimau Sumatera terus menurun jumlahnya. Menurutnya, kondisi demikian terjadi seiring dengan habitat yang semakin menyempit.   

 

“Saat ini populasi Harimau Sumatera jumlahnya tinggal 600an ekor, yang terdiri dari 30 blok habitat di Pulau Sumatera,” katanya kepada Gatra dalam diskusi Mengambil Momen Hari Harimau Sedunia di Perpustakaan Kemendikbud, Senin (30/7).

Dengan memanfaatkan momen Global Tiger Day, ia mengajak seluruh stakeholder untuk terus menjaga dan memperhatikan harimau, agar keberlangsungan hidup satwa liar ini terus berlanjut. Apalagi, menurutnya, hanya Harimau Sumatera yang masih tersisa di Indonesia, karena Harimau Jawa dan Harimau Bali sudah punah. “Kita tinggal memiliki Harimau Sumatra, Harimau Bali sudah tidak ada, sedang Harimau Jawa sudah punah sekitar tahun 1980-an,” ujarnya.

Selanjutnya, menurut Sunarto, top predator seperti harimau amat penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem. Kondisi alam saat ini menurutnya tidak berimbang disebabkan salah satunya oleh menurunnya populasi top predaktor. Ia mencontohkan, banyak pohon besar yang tidak ada anakannya, karena sudah banyak dimakan oleh hewan herbivora. Akibatnya, hutan tidak akan tumbuh dan bentang alam juga berubah.

“Jadi misalnya saja sungai, dia (Sungai) lajunya akan lurus saja, karena sudah tidak ada pepohonan, yang seharusnya membuatnya sedikit berkelok-kelok,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Sunarto, harimau pada umumnya memiliki karakter memangsa yang khas. Yakni tipe penyergap, kondisi ini, menurutnya dipengaruhi oleh struktur badannya yang besar, sehingga harimau pun, setiap 3 sampe 5 hari membutuhkan satu mangsa yang besar. Karena itu, di habitatnya harimau membutuhkan 50 ekor mangsa besar seperti rusa dalam satu tahun.   

“Jadi wilayah jelajahnya harus luas. Karena dia type penyergap, dia juga membutuhkan tempat sembunyi untuk menyembunyikan mangsanya,” imbuh dia.

Sementara itu dalam berkembang biak harimau menurutnya relatif mudah. Karena induk harimau hanya membutuhkan waktu 3 bulan masa kehamilan, ditambah minimal 2 ekor anak harimau sekali kelahiran. Baru, pada masa anakan hingga besar harimau mengalami masalah survival. Kondisi ini disebabkan daya jelajah yang menyempit, hingga ditambah perburuan yang masih saja sering ditemukan.

“Tingkat survivalnya rendah. Jerat banyak sekali, jadi masalah ada dihabitatnya,” pungkasnya.


Reporter : MEF

Editor : Sandika Prihatnala 

Muchammad Egi Fadliansyah
30-07-2018 18:31