Main Menu

Saksi Otto Sebut Yang Sah Hasil Munas Peradi di Pekanbaru

Iwan Sutiawan
02-08-2018 09:58

Otto Hasibuan berikan keterangan di PN Jakpus. (GATRA/Iwan Sutiawan/RT)

Jakarta, Gatra.com - Mantan Ketua Umum DPN Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Otto Hasibuan, menyampaikan, bahwa kepengurusan Peradi yang sah setelah kepengurusannya berakhir adalah hasil Munas di Pekanbaru, Riau. Dalam Munas itu Fauzie Yusuf Hasibuan terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum).

"Saya kira wajar karena yang sah itu yang kita laksanakan Munas itu. Jadi kalau sampai ada orang mengaku-ngaku ketua umum Peradi yang baru yang sah, saya kira wajar digugat," katanya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, menjawab pertanyaan ketua majelis hakim.

Otto menyampaikan keterangan tersebut dalam sidang perkara gugatan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Ketua Umum Fauzie Yusuf Hasibuan terhadap Peradi kubu Ketua Umum Juniver Girsang yang berlangsung hingga Rabu malam (1/8).

Peradi Ketum Fauzie selaku penggugat melalui kuasa hukumnya menghadirkan 5 orang saksi yakni Otto Hasibuan selaku mantan Ketum Peradi, Jamil Misbach selaku Ketua DPC Peradi Makassar, Hermansyah Dulaimi selaku Ketua Panitia Munas Makassar, Achiel Suyanto selaku Ketua SC Munas Pekanbaru, Shalih Mangara Sitompul selaku Sekretaris Munas Pekanbaru, dan notaris Iwan Ampulembang yang menjadi notaris pada Munas Peradi di Makassar.

Otto melanjutkan, bahwa Munas Pekanbaru itu sesuai dengan prosedur dan AD/ART. Dalam Munas tersebut ada 3 kandidat ketua umum yakni Fauzie Yusuf Hasibuan, James Purba, dan Fredrich Yunadi. Fauzie memperoleh 301 suara, James Purba 120, dan Fredirch Yunadi 38. Fauzie pun ditetapkan sebagai ketum.

"Betul [sudah sesuai prosedur], boleh dicek anggaran dasar, dilihat semua dokumennya lengkap," kata Otto menjawab pertanyaan ketua majelis hakim.

Otto menceritakan, bahwa kepengurusannya sebagai ketum Peradi akan berakhir pada 2015 sehingga sesuai ketentuan harus dilaksanakan Munas. Singkat cerita, setelah semua panitia OC dan SC serta panita penyelenggara daerah terbentuk, ditetapkan Munas akan digelar di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Namun Munas ini berakhir ricuh sebelum dibuka dan sempat 3 kali mengalami penundaan. Pasalnya, banyak orang yang tidak punya hak suara tetapi memaksa masuk ke arena munas. Mereka diduga dari kelompok tertentu dengan mengenakan ikat kepala atau ikat tangan bertuliskan "one man one vote".

Massa yang masuk itu diduga bukan advokat. Bukan hanya itu, terdapat ancaman pembunuhan terhadap Otto dan panitia penyelenggara. Setelah mendapat masukan dari aparat keamanan baik Polri dan TNI, Otto mengatakan, akhirnya Munas Peradi di Makassar ditunda dengan keputusan, munas ditunda dan akan dilanjutkan 3 sampai 6 bulan ke depan dan panitia mengembalikan mandat kepada DPN Peradi melalui pernyatan terulis.

Untuk menindaklanjutinya, lanjut Otto, DPN Peradi pun kemudian membentuk panitia untuk pelaksanaan Rakernas di Pekanbaru. Hasilnya, mayoritas DPC Peradi sepakat melanjutkan munas untuk memilih ketum dan agenda lainnya yang sempat tertunda. Menindaklanjuti itu, kemudian dilakukan Munas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Para saksi yang dihadirkan pun keterangannya tidak jauh dengan apa yang disampaikan Otto. Di antaranya keterangan saksi Iwan, Hermansyah, dan Jamil bahwa Munas Peradi di Makassar ricuh. Panitia mengembalikan mandat.

"Bahwa mandat saya serahkan kepada DPN Peradi," kata Jamil. Karena itu, diputuskan Munas di Makassar tidak bisa dilanjutkan dan akan dilanjutkan 3 sampai 6 bulan kemudian. Setelah itu dilakukan Munas di Pekanbaru.

Otto mengaku prihatin dengan perpecahan ini karena Peradi diperjuangkan para advokat agar bisa bersatu sehingga lahirnya UU Advokat dan membentuk satu-satunya wadah tunggal organisasi advokat yakni Peradi. "Waktu UU Advokat dibentuk tidak satu pun peserta menentang baik dari pemerintah, partai, advokat yang menentang single bar," ujarnya.

Namun setelah Peradi besar dan disepakti single bar, pertentangan ini menjadikan advokat tidak solid sehingga pihak-pihak yang ingin melemahkan advokat bisa memanfaatkannya. Karena itu, Otto mengaku tidak akan lelah untuk memperstukan kembali para advokat.

Otto pun mengaku sudah menjalin komunikasi dengan Juniver Girsang. Juniver pun menyampaikan siap melakukan rekonsiliasi dan siap menyampaikan surat. "Tapi sampai sekarang belum ada. Tapi saya tidak pesimis, akan saya tagih janji ke dia" ujar Otto.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
02-08-2018 09:58