Main Menu

Efek Jera Hukuman Mati Dipertanyakan

Mukhlison Sri Widodo
25-08-2018 16:13

Lokakarya “Mengungkap Kepentingan Politik di Balik Implementasi Hukuman Mati di Indonesia”.(GATRA/Arif Koes/re1)

Bogor, Gatra.com – Efek jera dan efektivitas hukuman mati dalam menurunkan kejahatan  yang dianggap luar biasa, seperti narkotika, terorisme, korupsi dan pembunuhan kembali dipertanyakan. Riskan menimpa warga miskin di tengah sistem peradilan yang cacat.

 

Hal itu ditunjukkan oleh riset lembaga Amnesty International. Misalnya Kanada yang pernah menerapkan hukuman mati untuk pelaku pembunuhan. 

Sejak menghapus hukuman itu pada 1975, angka pembunuhan turun 44% dan kasus pembunuhan tercatat 1,68 per 100 ribu pada 2016.

Adapun kasus pembunuhan di Amerika Serikat yang menerapkan kembali hukuman mati sejak 1976 malah meningkat. 

Dari 31 negara bagian penerap hukuman mati, rasio kasusnya ada 5,4 per 100 ribu kejadian.

“Hukuman mati tidak memberikan efek jera terhadap pelaku pembunuhan di Amerika Serikat,” kata peneliti Amnesty International Papang Hidayat dalam lokakarya “Mengungkap Kepentingan Politik di Balik Implementasi Hukuman Mati di Indonesia”, di Bogor, Sabtu (25/8).

Hukuman mati juga tidak bisa digunakan sebagai dalih untuk menekan kasus korupsi. Berdasarkan ranking 20 besar indeks persepsi korupsi Transparency International pada 2016 dan 2017, hanya ada tiga negara penerap hukuman mati yakni Singapura, Amerika Serikat, dan Jepang.

Mayoritas Negara yang rendah korupsinya tidak menerapkan vonis mati. Negara-negara penerap hukuman mati justru cenderung korup sesuai indeks tersebut. 

“Hukuman mati tidak bisa dimainkan untuk isu korupsi. Efektivitasnya tak pernah terbukti,” ujar Papang.

Dalam sejarahnya, hukuman mati juga diterapkan untuk memberi hukuman atas tindakan kejahatan ideologis, Namun langkah ini justru menguatkan kebencian para pendukung ideologi tersebut kepada pemerintah sebagai pemvonis mati. 

“Ini bahayanya hukuman mati pada (terpidana mati kasus terorisme) Aman Abdurahman karena dia bisa dianggap martir,” kata dia.

Papang mengingatkan, menentang hukuman mati bukan berarti meniadakan hukuman, melainkan menurunkankan vonis mati dan mengkaji proses, konteks, dan efek jeranya. 

Misalnya pemerintah lebih kerap mewacanakan hukuman mati untuk memberantas narkotika ketimbang memperkuat penegakan hukum.

“Ibaratnya kita hanya berjudi untuk satu strategi yaitu hukuman mati. Kesalahan penegak hukum memperkuat mitologi hukuman mati jadi obat semua masalah,” ujarnya.

Ketua Pengembangan Organisasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Febi Yonesta menyebut vonis mati riskan menimpa warga miskin dan terdiskriminasi. 

Dengan kualitas peradilan dan penegakan hukum Indonesia yang masih cacat, proses vonis mati untuk sejumlah terpidana mati layak diragukan.

Contohnya vonis mati untuk buruh migran asal Filipina karena kasus narkotika, Mary Jane. Presiden Joko Widodo menggunakan diskresi untuk menunda eksekusi mati perempuan itu.

“Kami mengadvokasi karena dia miskin, tidak berpendidikan, dan ditipu sindikat narkotika. Kami bangun argumen, bagaimana ini kalau terjadi pada diri, saudara, atau keluarga kita. Ini tidak ada di regulasi. Jadi ini tugas untuk para pembuat undang-undang,” kata Febi.

Pada 2018, sekitar 140 negara telah menghapus hukuman mati, sementara 40 negara masih menerapkan meski tidak aktif mengeksekusi. Angka itu meningkat daripada 1976 ketika hanya 16 negara.

Norwegia termasuk garda depan antihukuman mati. Pada 1984, Raja Norwegia bahkan mengampanyekan penolakan hukuman mati dan memberi sumbangan pada gerakan tersebut di televisi nasional.

Diplomat Kedutaan Norwegia untuk Indonesia Bjornar Dahl Hotvedt mengatakan negaranya meminta negara penerap hukuman mati, seperti Indonesia, untuk memoratorium hukuman itu.

“Kebijakan kami bukan bermaksud menekan Indonesia, tetapi berdiskusi dan menggarisbawahi soal dampak negatif hukuman mati. Dari riset, hukuman mati tidak efektif. Makin banyak juga negara menghapus hukuman mati,” kata Bjornar.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison 

Mukhlison Sri Widodo
25-08-2018 16:13