Main Menu

Cerita Muslimah Bandung Mengajar di Kawasan Danau Toba

Hendry Roris P. Sianturi
02-09-2018 18:01

Swasti Nadia Aryani, seorang muslimah yg ngajar di Pulau Samosir (GATRA/Hendry Roris Sianturi/yus4)

Samosir, Gatra.com – Bagi Swasti Nadia Aryani, mengajar di kawasan Danau Toba, Pulau Samosir, menjadi tantangan tersendiri. Alumni Teknik Kimia ITB ini, mengajar Bahasa Inggris kepada siswa-siswa dan guru-guru di Kabupaten Samosir sejak bulan Juli sampai September.

 

Bertugas mengajar di daerah asal mula Suku Batak tersebut, Nadia mengaku tidak pernah mendengar suara azan. Pasalnya, masjid jarang dibangun di Kabupaten Samosir. Memang, 95% penduduk Kabupaten Samosir beragama Katolik dan Kristen Protestan. “Paling kehilangan adalah suara azan. Biasa ada suara azan, ini nggak ada,” katanya kepada GATRA di Pulau Samosir, (01/09).

Namun, bagi Nadia hal tersebut bukan masalah. Agar sholat lima waktunya tidak bolong, Nadia menggunakan aplikasi azan melalui selulernya. Nadia juga rutin melaksanakan puasa setiap hari Senin dan Kamis.

“Tapi yang saya senang, walaupun saya di sini sebagai minoritas, tapi yang lain itu tidak Islam fobia. Jadi kalau waktunya sholat, mereka bilang, kalau mau sholat dulu, silahkan miss. Jadi mereka tahu bahwa saya tidak seagama dengan mereka. Tapi mereka respek,” ujarnya.

Nadia sempat bersedih karena hampir melewatkan sholat hari raya Idul Adha. Menurutnya, perayaan Idul Adha di kawasan Danau Toba tidak semeriah di Pulau Jawa. “Di sini kan nggak ada. Azannya aja nggak ada di sini. Sepi banget, ini lebaran apa bukan yah,” katanya. 

Untungnya, Nadia mendapat informasi kalau di Kecamatan Pangururan ada satu masjid. Paginya, Nadia bergegas pergi ke Pangururan untuk melaksanakan sholat Idul Adha. “Yang di sini itu kurbannya kerbau yah. Tapi dapatlah nuansanya, walaupun nggak seramai di Jawa. Jadi itu, mengadakan Idul Adha di tempat minoritas bukan jadi halangan,” ujarnya.

Nadia juga menceritakan sulitnya mencari warung makanan halal. Cara mengatasinya, Nadia menggunakan jasa katering makanan. “Ini jadi tantangan bagi saya. Karena tahun lalu di bulan yang sama saya menunaikan ibadah haji. Dimana semuanya orang muslim. Sekarang, semuanya bukan muslim. Bukankah itu rencana Tuhan yang sangat hebat yah,” katanya.

Ibu anak tiga ini juga sempat khawatir setiap kali berjalan sendiri di kawasan Danau Toba. Karena, hewan seperti anjing dan babi sering berkeliaran di jalan. “Untungnya nggak pernah ada yang ngejar. Kalau ada (hewan) yang ngejar, pakai ayat kursi,” katanya setengah bercanda.

Nadia menilai ketaatan beragama masyarakat Pulau Samosir. Karena, setiap hari minggu semua masyarakat Samosir beribadah ke gereja. Para jemaat pun, kata Nadia, mengenakan busana yang rapi. “Jemaatnya itu datang pakai baju batik, kebaya, benar-benar rapi. Sedangkan ke masjid kan beda yah,” kata perempuan berdarah Sunda ini.

Nadia mengatakan, mengajar di Pulau Samosir merupakan pengalaman pertama kali. Biasanya, Nadia hanya mengajar di Jakarta dan Bandung. “Ini menambah wawasan baru buat muslim seperti saya. Ternyata (ngajar di Samosir) nggak seseram yang saya takuti,” ujarnya.

Perempuan berusia 41 tahun ini mengatakan, meskipun menjadi minoritas di Pulau Samosir, Nadia tidak pernah mendapatkan intimidasi atau diskriminasi selama mengajar. “Nggak ada, mereka menerima dengan baik. Dan nggak ada yang ganggu. Dan saya sudah anggap ini sebagai rumah saya sendiri,” katanya.

Nadia meyakini, perbedaan bukan suatu halangan untuk saling mendukung dan maju bersama-sama. Para siswa di Pulau Samosir menyenangi cara pengajaran Nadia. Beberapa siswa bahkan menciptakan lagu buat Nadia karena mau membagi ilmunya.

“Buat lagu sama aku, sampai aku mau menangis. Suami saya saja belum pernah ciptain lagu buat saya,” katanya. “Jadi kalau ada kerusuhan karena agama, itu cetek sekali,” sambungnya. Nadia berharap, para siswa di Samosir bisa mahir Bahasa Inggris di tengah kebijakan pemerintah yang menetapkan kawasan Danau Toba menjadi destinasi internasional.

Nadia merupakan pengajar The British Institute (TBI) sejak 10 tahun lalu. Dia mendapat tugas selama dua bulan mengajar Bahasa Inggris di Pulau Samosir. Nadia mendapat penugasan menjadi pengajar dalam program CSR Yayasan Marianna Parna Raya grup.


Reporter: Hendry Roris Sianturi
Editor: Mukhlison

Hendry Roris P. Sianturi
02-09-2018 18:01