Main Menu

Ini 8 Tersangka Korupsi Dapen PT Pupuk Kaltim

Iwan Sutiawan
07-09-2018 16:56

 Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo. (Dok.GATRA/Dharma Wijayanto/RT)

Jakarta, Gatra.com - Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan 8 orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan dana pensiun PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) tahun anggaran 2011-2016.

 

"Sudah 8 orang dinyatakan tersangka," kata Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo di Kejagung, Jakarta, Jumat (7/9). Lantas siapakah tersangkanya? Sesuai data yang diterima Gatra.com, delapan orang tersangkanya adalah:

1. Inisial Z selaku Direktur Investasi Dana Pensiun PT Pupuk Kalimantan Timur.
2. Inisial EA selaku mantan Direktur Utama (Dirut) Dana Pensiun PT Pupuk Kaltim.
3. Inisial AB selaku Dirut PT Strategi Management Service.
4. Inisial DB selaku Komisaris PT
Strategi Management Service.
5. Inisal W selaku Direktur PT Anugrah Pratama Iternasional dan Direktur Keuangan PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo, Tbk (DAJK).
6. Inisial DL selaku Dirut PT Anugrah Pratama Internasional dan Komisaris PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo, Tbk (DAJK).
7. Inisial ACK selaku Komisaris PT Anugrah Pratama Internasional dan Dirut PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo, Tbk (DAJK).
8. Insial IDSB selaku Direktur PT Bukit Inn Resort.

Prasetyo menyampakan, bahwa pengelolaan dana pensiun (Dapen) PT Pupuk Kalimantan Timur tahun 2011-2016 tersebut tidak sesuai atau menyalahi aturan sehingga negara mengalami kerugian keuangan sekitar Rp226 miliar. Sedangkan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) M Rum, sebelumnya menyampaikan bahwa kerugian negaranya ditaksir sebesar Rp229,8 miliar.

"Tapi yang pasti, kebanyakan prosedurnya tidak benar dan banyak yang tidak bisa dipertanggungjawahkan sehingga diduga kerugian negaranya senilai hampir Rp226 miliar," ujarnya.

Seperti diberikan sebelumnya, penyidik Pidana Khusus Kejagung hingga Rabu (25/4/2018, telah memeriksa 35 orang saksi, di antaranya Direktur Utama (Dirut) PT. Anugerah Sekuritas, M. Ali Yusuf; dan Direktur Utama PT. Batavia Prosperindo Sekuritas, Latif Wiyono. Mereka menjalani pemeriksaan sehari sebelumnya atau pada Selasa (24/4/2018).

Pada pemeriksaan tersebut Ali menyampaikan tentang transaksi jual-beli saham PT. Dwi Aneka Jaya Kemasindo (PT. DAJK) dan PT. Eurekaa Prima Jakarta (LCGP) melalui PT. Anugerah Sekuritas. Sedangkan Latif, menerangkan mengenai transaksi jual-beli saham DAJK dan LCGP melalui PT. Batavia Prosperindo Sekuritas.

Kasus ini berawal dari perjanjian penjualan dan pembelian kembali saham PT DAJK dan PT LCGP antara pihak Dapen PT. Pupuk Kalimantan Timur dengan PT. Anugerah Pratama Internasional (PT. API) dan PT. Strategis Management (PT. SMS).

Perjanjian tersebut dapat dikategorikan sebagai repurchase agreement (repo), di mana pembelian repo bertentangan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 199/PMK-010/2008 tentang Investasi dana pensiun.

Transaksi repo itu menyebabkan Dapen PT. Pupuk Kaltim mengalami kerugian sekitar Rp 226 miliar karena PT. Anugerah Pratama Internasional dan PT. Strategis Management tidak bisa mengembalikan uang.

 


Iwan Sutiawan

Catatan redaksi.

Sebelumnya dalam berita ini tertulis, salah satu tersangka inisial EA disebut sebagai Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur. Pihak Pupuk Kaltim dalam suratnya 12 September 2018, meminta pelurusan berita, jika inisial EA adalah mantan Direktur Utama (Dirut) Dana Pensiun PT Pupuk Kalimantan Timur. Demikian untuk menjadi koreksi.

Iwan Sutiawan
07-09-2018 16:56