Main Menu

Pecinta Satwa Protes Acara Mancing Pendukung Jokowi

Hidayat Adhiningrat P.
08-09-2018 12:52

Selokan mataram (GATRA/Arif Koes Hernawan/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com - Kelompok pecinta satwa memprotes acara mancing bareng yang akan digelar pendukung pasangan peserta pemilihan presiden Joko Widodo - Ma'ruf Amin pada Minggu (9/9). Mereka menilai pelepasan 10 ton ikan lele dumbo di sepanjang Selokan Mataram, Sleman, DI Yogyakarta merusak habitat.

 

Dalam rilis yang dikirimkan Jumat (7/9) malam, Solidaritas Gotong Royong Peduli Lingkungan Sungai menyatakan lele dumbo atau north african catfish termasuk spesies ikan introduksi dan invasif asing.

Mereka yang memprotes merupakan masyarakat pecinta lingkungan yang terdiri dari Wild Water Indonesia Yogyakarta, Forum Edukasi Satwa dan Tumbuhan, Yayasan Kanopi Indonesia, Moray Eel Indonesia.

Dalam pernyataannya, pelepasan spesies yang berasal dari Afrika itu menabrak Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan No. 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri Ke Dalam Wilayah Negara Repubik Indonesia. Ketua Wild Water Indonesia Yogyakarta  Irwanjasmoro mengemukakan ikan tersebut tak boleh disebar secara bebas.

Hal itu mengacu pedoman umum restocking jenis ikan terancam punah yang diterbitkan Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Ditjend Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementrian Kelautan dan Perikanan pada 2015. Aturan ini telah menyebutkan spesies ikan apa saja yang boleh dilepasliarkan di perairan Indonesia.

"Dicontohkan di buku itu bagaimana ikan mas (Cyprinus clarpio) dan nila (Oreochromis niloticus) di Sulawesi Selatan telah menyebabkan punahnya ikan moncong bebek (Adrianichthys kruyti) di Danau Poso dan Xenopoecilus sarasinorum di Danau Lindu. Kemudian ikan batak (Neolissochilus Thienemanni) juga tergusur oleh nila dan ikan mas di Danau Toba," ujarnya.

Pecinta satwa menganggap, pelepasan ikan di acara mancing bareng itu melanggar Undang-undang No. 32 Tahun 2009, Pasal 1 No. 14 tentang Pencemaran Lingkungan Hidup karena masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup.

Komunitas ini meminta panitia belajar dari pengalaman buruk di Sumatera dan Sulawesi agar pencemaran dan perusakan lingkungan tidak terjadi di Yogyakarta.

Ketua Yayasan Kanopi Indonesia Arif Rudiyanto meminta Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kelautan dan Perikanan, Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, serta Bawaslu DIY menolak pelepasan ikan ini.

Kepada instansi tersebut, para pecinta satwa memohon penjelasan. "Apakah pelepasan 10 ton lele dumbo di ekosistem Selokan Mataram telah diberikan izin? Mengapa rencana acara pelepasan ikan lele dumbo 10 ton ke Selokan Mataram yang sudah viral seolah tidak ada reaksi atau penindakan? Bagaimana sikap dan tindakan dari instansi Bapak/Ibu/ Saudara terkait dengan perkara ini?" tulis mereka.

 

Acara Sudah Mengantongi Izin

Sementara itu, ketua acara 'Mancing Bareng 10 Ton Ikan di Selokan Mataram Widihasto Wasana Putra menyatakan sudah berkomunikasi dengan pihak stasiun karantina ikan terkait acara ini.

"Pihak berwenang menyatakan tidak mempersoalkan karena jenis ikan lele yang dilepas dan dipancing masyarakat adalah lele mutiara yang dikembangbiakkan di Berbah (Sleman), Imogiri, dan Kasihan (Bantul) sehingga bukan ikan invasif," katanya.

Hasto tidak keberatan jika acara ini dihubungkan dengan program memenangkan pasangan Jokowi-Amin. Baginya, acara mancing bareng mendapatkan sambutan dan antusiasme warga.

"Saat acara kami menebarkan ikan-ikan itu di 75 titik Selokan Mataram mulai Godean sampai Kalasan. Diperkirakan ribuan pemancing akan turun," katanya.

Hasto mengatakan selama kegiatan 75 titik sepanjang 20 kilometer akan ditutup untuk kegiatan lain selain acara mancing gratis ini.

Acara bertajuk "Mancing Gratis Geerrsama" disebut akan dihadiri sejumlah tokoh antara lain Maman Imanulhaq sebagai Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi- Amin, Ketua Relawan Bravo 5 Jenderal (Purn) Fachrul Rozi, anggota Wantimpres Sidarta Danusubroto, dan Ketua komunitas pendukung Jokowi-Amin, Rejomulia, Masrur Ahmad.

Menurut Hasto, acara ini juga digelar dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah Amanat 5 September 1945 yaitu bergabungnya Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke Republik Indonesia serta mengenang jasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang telah membangun Selokan Mataram.


Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
08-09-2018 12:52