Main Menu

Demokrat Bantah Artikel: Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy’

Anthony Djafar
12-09-2018 12:47

Ferdinand Hutahaean. (GATRA/Wem Fernandes/re1)

Jakarta, Gatra.com - Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai laman berita Asia Sentinel yang menurunkan artikel yang menyudutkan presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanyalah sebuah karangan fiktif yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

 

“Semua yang dituliskan itu tidak lebih dari sebuah halusinasi yang buruk. Mengarang sebuah cerita dengan kisah kisah fiktif yang diolah sebagai seolah-olah sebuah kebenaran, padahal penuh kebohongan,” kata Ferdinand ketika dihubungi Gatra.com, Rabu (12/9).

Ferdinand mengatakan bahwa bank Century itu tidak satupun mengaitkan dengan SBY, dengan Demokrat maupun dengan orang Demokrat. “Robert Tantular pemilik century juga tidak dikenal oleh SBY. Jadi semua yang disampaikan itu adalah fitnah yang omong kosong,” katanya.

Menurut Ferdinand, fakta-fata selama proses politik maupun proses hukum terkait Century, sama sekali tidak menghubungkan dengan SBY, Demokrat maupun orang Demokrat. “Jadi bagi kami itu hanya omong kosong dan fitnah kepada SBY,” katanya.

Sebelumnya, pada laman berita Asia Sentinel menurunkan artikel yang ditulis langsung oleh pendiri Asia Sentinel, John Berthelsen, pada Selasa (11/9). Dia mengungkapkan adanya konspirasi mencuri uang negara hingga USD 12 miliar dan mencucinya melalui perbankan internasional.

Laporan Berthelsen yang juga sebagai editor itu, diklaim sebagai tulisan hasil investigasi setebal 488 halaman sebagai gugatan Weston Capital International ke Mahkamah Agung Mauritius pekan lalu.

Artikel berjudul Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy, itu mengungkap 30 pejabat Indonesia yang terlibat skema pencurian uang dan mencucinya di bank-bank mancanegara.

Berthelsen membeberkan tentang patgulipat di balik Bank Century hingga menjadi Bank Mutiara yang akhirnya jatuh ke tangan J Trust. Laporan hasil investigasi itu merujuk pada analisis forensik atas berbagai bukti yang kemudian dikompilasi oleh satuan tugas khusus investigator dan pengacara dari Indonesia, Inggris, Thailand, Singapura, Jepang serta negara-negara lainnya.

Laporan itu dilengkapi 80 halaman afidavit atau keterangan di bawah sumpah yang menyeret keterlibatan lembaga keuangan internasional termasuk Nomura, Standard Chartered Bank, United Overseas Bank (UOB) Singapura dan lainnya.

Ada rekayasa untuk menetapkan Century sebagai bank gagal pada 2008. Bahkan, Asia Sentinel menyebut Bank Century sebagai ‘Bank SBY’ karena lembaga keuangan hasil merger tiga bank itu menyimpan dana gelap terkait Partai Demokrat (PD) pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Presiden RI kala itu.

Selain itu juga diungkapkan bagaimana Bank Century yang disuntik modal pada 2008 dan berubah nama menjadi Bank Mutiara setelah diakuisisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Juga misteri dana yang ditawarkan J Trust senilai USD 989,1 juta atau sekitar Rp 14 triliun pada 2013 untuk membeli Bank Mutiara. Hanya saja sumber dana untuk penawaran J -Trust tak pernah teridentifikasi.

Meski J Trust tetap mengakuisisi Bank Mutiara pada 2014. Berdasar laporan investigasi itu pula para pejabat Indonesia menyetujui J Trust sebagai pihak yang pas dan tepat untuk pembeli Bank Mutiara, meski lembaga keuangan asal Jepang itu tak mengelolanya sebagaimana bank komersial.

Meski tidak ada bukti bahwa J Trust membayar USD 366,67 juta untuk membeli Bank Mutiara. Catatan LPS mengindikasikan J Trust hanya membayar 6,8 persen dari total kesepakatan atau USD.


Anthony Djafar

 

Anthony Djafar
12-09-2018 12:47