Main Menu

PDI Perjuangan Punya Kemungkinan Kembali Jadi Jawara Pileg

Bernadetta Febriana
12-09-2018 18:04

PDI Perjuangan. (Dok.PDIP/RT)

Jakarta, Gatra.com - PDI Perjuangan punya kemungkinan untuk kembali menjdi juara di Pemilu Legislatif (pileg) 2019 mendatang. Sementara Partai Golkar malah terancam keluar dari posisi dua besar.

 


Hal tersebut nampak pada hasil survey terbaru LSI Denny JA, yang dirilis Rabu (12/9) ini. Ada 3 perubahan yang tampak dalam hasil survey tersebut bila dibandingkan dengan hasil-hasil Pileg sebelumnya. 

 
Yang pertama adalah PDI Perjuangan yang dalam survey tersebut potensial menjadi partai pertama memenangi pileg dua kali berturut-turut di era reformasi, dengan capaian suara di survey kali ini 24,8%. Selama ini, memang tidak ada satu parpol pun yang bisa menang dua kali berturutan. 

 
Data menyebutkan , bahwa di Pemilu 1999 PDI Perjuangan menempati posisi pertama dengan Golkar di posisi kedua. Selanjutnya di pemilu 2004, gantian Golkar di posisi pertama dan PDI Perjuangan di posisi kedua. 

 
Di pemilu 2009, pendatang baru Partai Demokrat memenangkan pileg disusul Golkar. Sementara pileg terakhir 2014 lalu, kembali PDI Perjuangan dan Golkar menempati urutan 1 dan 2. 

 
Perubahan kedua yang tercatat dalam hasil survey ini yaitu Gerindra yang kemunkinan besar mampu menjadi pemenang kedua sesudah PDI Perjuangan di Pileg 2019. Dalam survey ini, ada 13,1% responden yang memilih Gerindra. Ini adalah yang pertama kalinya runner up dipegang parpol lain selain PDI Perjuangan dan Golkar. 

 
Yang terakhir, perubahan ketiga adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah (baik masa Orba maupun reformasi) Golkar bakal terdepak dari posisi 2 besar. Hanya 11,3% responden yang masih memilih Golkar bila pileg diselenggarakan hari ini.

 
Apa yang menjadi penyebab dari 3 perubahan ini? Pertama, menurut analisa dari LSI Denny JA, pilpres dan pileg serentak menguntungkan pertai utama yang mempunyai capres. Dalam hal ini, Jokowi adalah kader PDI Perjuangan sementara Prabowo Subianto adalah Ketum Gerindra.

 
Alasan kedua, Golkar punya banyak masalah yang membuatnya terpuruk di posisi ketiga. Publik masih ingat betul dengan kasus e-ktp Setya Novanto dan kini kasus korupsi PLTU Riau yang menyeret beberapa nama pengurus Golkar.

 
Sementara alasan ketiga, adalah adanya strong leadership baik di PDI Perjuangan maupun di Gerindra. Sosok Megawati Sukarnoputri dan Prabowo Subianto, mau tidak mau diakui lebih kuat dan menonjol dibandingkan dengan ketum-ketum parpol lainnya. 


Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
12-09-2018 18:04