Main Menu

Kejagung: Pengusutan Kasus Karen Agustiawan Terus Berjalan

Iwan Sutiawan
21-09-2018 14:17

Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo (Dok.GATRA/RT)

Jakarta, Gatra.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) masih terus mengusut kasus dugaan korupsi mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan, soal investasi perusahaan yang sempat dipimpinnya di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia, tahun 2009.

 "Ya jalan terus. Yang pasti sudah 2 orang yang sudah dilakukan upaya paksa [ditahan]," kata Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo di Kejagung, Jakarta, Jumat (21/9).

Dau dari empat tersangka yang telah ditahan tersebut yakni mantan mantan Direktur Keuangan PT. Pertamina (Persero), Frederik Siahaan (FS) dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan (FS).

Sedangkan saat dikonfirmasi kapan penyidik pidana khusus Kejagung akan memanggil lagi Karen untuk menjalani pemeriksaan, Prasetyo menyampaikan, tunggu jadwal dari penyidik.

"Sekarang masih sebagai saksi, tunggu saja kapan mau dipanggil sebagai tersangka. Nanti ini penyidik yang mantau, agendanya mereka yang menentukan," ujarnya.

Dalam kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina (Persero) di Blok BMG Australia tahun 2009, penyidik pidana khusus Kejagung telah menetapkan 4 orang tersangka, yakni mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan sesuai surat perintah penydikan (sprindik) Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018, tanggal 22 Maret 2018.

Kemudian, Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina (Persero), Genades Panjaitan (GP) berdasarkan Sprindik Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Selanjutnya, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan (FS) berdasarkan sprindik Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Kasus ini berawal saat PT Pertamina (Persero) mengakuisisi (investasi non-rutin) yakni pembelian sebagian aset (Interest Participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project, tanggal 27 Mei 2009.

Namun dalam pelaksanaannya diduga terjadi penyimpangan yakni dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi serta pengambilan keputusan investasi tanpa adanya studi kelayakan berupa kajian secara lengkap atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Akibatnya, peruntukan dan penggunaan dana sejumlah US$ 31.492.851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah AU$ 26.808.244 tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan bagi korporasi perusahaan plat merah di bidang migas itu dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.

Hal tersebut juga merugikan keuangan negara sebesar US$ 31.492.851 dan AU$ 26.808.244 atau setara dengan Rp 568.066.000.000 sesuai perhitungan yang dilakukan akuntan publik. "Sampai sekarang sudah 67 saksi diperiksa oleh penyidik," kata M Rum, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung.

Kejagung menyangka mereka melanggar Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan seorang tersangka lainnya adalah mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero), inisial BK berdasarkan sprindik Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018, tanggal 23 Januari 2018.
Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
21-09-2018 14:17