Main Menu

Korban Perdagangan Orang Banten Tergolong Tinggi

Anthony Djafar
24-09-2018 05:15

Ilustrasi.(Reuters/re1)

Serang, Gatra.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise mengatakan bahwa korban perdagangan orang Provinsi Banten masuk kategori tertinggi di Indonesia.

 

"Saat berkunjung ke shelter-shelter tenaga migran asal Indonesia,seperti di Hongkong dan Timur Tengah, kebanyakan (mereka) berasal dari Provinsi Banten," kata Yohana Yambise saat sosialisasi akhiri Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Serang, Banten, Minggu (23/9).

Kegiatan sosialisasi TPPO bekerja sama Kementerian PPPA, Pemerintah Provinsi Banten juga garda depan TNI, Polri dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Kasus TPPO di Banten tahun 2014, tercatat 14 pengaduan dan menurun tahun 2017 menjadi empat pengaduan.

Untuk itu, pemerintah berkomitmen untuk memberantas TPPO dengan terbitnya regulasi dan pelembagaan penanganannya di tingkat pusat dan daerah, sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Karena itu, Kementerian PPPA ini gencar melakukan upaya peningkatan pemahaman dan pengetahuan masyarakat untuk mencegah TPPO.

"Kegiatan di Kota Serang ini salah satu sosialisasi akhiri TPPO," katanya.

Yohana juga meminta ibu-ibu di Provinsi Banten, untuk perhatikan anak-anaknya. Jangan terlalu gampang percaya dan mau diiming-imingi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

“Menjanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi di luar negeri namun prosedurnya tidak sesuai aturan atau ilegal," katnya.

Yohana menambahkan, deteksi dini masyarakat, gugus tugas TPPO, serta pemerintah daerah diperlukan dalam hal ini.

Banyaknya korban TPPO yang berasal dari Provinsi Banten menyebabkan perlunya pencegahan untuk meminimalkan faktor penyebab TPPO. Upaya penanganan korban, dan upaya penegakan hukum bagi pelaku TPPO mesti ditingkatkan.

"Kita berharap ke depan masyarakat Banten tidak ada lagi korban TPPO," katanya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak Mintarsih mengatakan masyarakat hendaknya mewaspadai perdagangan manusia dengan kedok menawarkan pekerjaan.

“Saat ini, banyak para perekrut berkeliaran ke pelosok-pelosok desa untuk mengincar para gadis usia di bawah umur,” katanya.

Modusnya, pelaku perdagangan manusia itu mendatangi warga miskin agar mudah terbujuk rayu untuk melepaskan anaknya yang ingin bekerja.

“Biasanya, sindikat kejahatan itu menawarkan berbagai pekerjaan dengan gaji lumayan, termasuk jaminan kesejahteraan,” katanya.

Pekerjaan yang ditawarkan kata Mintarsih, mulai dari supermarket, hotel, restoran, dan asisten rumah tangga.

"Kami terus mensosialisasikan agar masyarakat tidak mudah melepaskan anaknya untuk bekerja karena khawatir menjadi korban perdagangan manusia," katanya seperti dikutip Antara.

Anthony Djafar

Anthony Djafar
24-09-2018 05:15