Main Menu

Tingkatkan Kapasitas Telkom Perbatasan NTT-Timor Leste

Aries Kelana
10-10-2018 22:59

Ilustrasi penggunaan seluler (Shutterstock_585973055/jh)

 

Kupang, Gatra.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur (DPRD NTT) dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Pendeta Yunus Naisunis, S.Th meminta pemerintah meningkatkan kapasitas Telkomsel di perbatasan Amfoang Kabupaten Kupang yang berbatasan langsung dengan Distrik Ambeno, Timor Leste. Karena selama ini masyarakat disana hanya memanfaatkan Telemor, Telkom Timor Leste untuk internet.

 

”Produk Telkomsel disana hanya digunakan untuk telp dan SMS. Internet dan download dan copy data lainnya tidak bisa. Terpaksa masyarakat menggunakan fasilitas telemor,” kata Pendeta Yunus Naisunis, S.Th saat acara dialog DPRD NTT dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat di Hotel Aston, Kupang (10/10).

Ia menyebutkan dari sisi kelistrikan dan telekom, Kecamatan Amfoang jauh tertinggal dengan dengan Distrik Ambeno, Timor Leste. ” Dulu semasa Timtim masih gabung Indonesia, Amfoang jauh lebih maju. Sekarang Ambeno sudah jauh melangkah,” kata Naisunis.

Untuk fasilitas telekomunikasi lewat telepon seluler, masyarakat harus membeli kartu telemor dengan harga yang mahal. Kartu Telemor dibeli dengan harga Rp 30.000 per kartu, kemudian ditambah pulsa voucher 1 dollar senilai Rp 20.000. Itupun hanya dipakai untuk limit waktu sejam. Setelah itu isi pulsa lagi.

Kendala lain kata Naisuni, soal kerahasiaan jati diri Indonesia. Karena dengan memanfaatkan telemor, tentunya semua data yang dikirim, di-copy pasti terekam pihak telemor. “Perlu perhatian serius. Karena semua data baik dinas maupun pribadi yang dikirim via email atau WA pasti diketahui pihak Timor Leste. Apa kita perlu membiarkan ? ,” tanya Yunus.

Yunus Naisunis juga menyoroti ketertinggalan lainnya warga perbatasan (Amfoang) dengan Distrik Ambeno soal penerangan, kelistrikan.

“Kami berbatasan langsung. Dulu semasa masih menjadi Provinsi ke-27 Indonesia, wilayah itu sangat gelap, menggunakan lampu pelita minyak tanah. Setelah merdeka 1999 lalu, listrik mereka menyala 24 jam. Wilayah Amfoang baru ada listrik 2 tahun lalu. Itupun hanya menyala 6 jam,” sambung Yunus.

Kepala Desa Netemnanu Utara, Wemfried Kameo membenarkan ucapan Yunus. Menurutnya, hampir semua warga di sepanjang perbatasan dengan Distrik Ambeno menggunakan fasilitas telemor.

“Ya jaringan internet yang bisa tertangkap perangkat seluler hanyalah jaringan internet Telemor dari Timor Leste. Sedangkan layanan internet provider Indonesia sama sekali tidak ada,” kata Wemfried Kameo.

Ia mengungkapkan, kartu Telemor maupun pulsa vouchernya itu dapat dibeli dari warga Timor Leste di pasar Oepoli setiap Minggu, menggunakan pas lintas batas.

“Setiap minggu hari pasar mereka ikut beraktivitas di Pasar Oepoli. Mereka membawa jualan termasuk kartu telemor dan sebaliknya membeli kebutuhan mereka yang ada di pasar,” kata Kameo.

Sementara itu Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat kepada Gatra usai acara dialog memaparkan program kerja dengan DPRD NTT membenarkan soal warga perbatasan pakai Kartu Telemor untuk mengakses internet dan lainnya.

“Saya sudah komunikasikan dengan Pak Menteri. Dan saya optimis dalam waktu tidak terlalu lama sudah bisa diatasi ,” kata Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat.


Reporter: Antonius Un Taolin

Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
10-10-2018 22:59