Main Menu

Selain Rp4,7 Miliar dari Kotjo, Eni Juga Terima dari Samin Tan dan Irdus Marham

Iwan Sutiawan
12-10-2018 12:35

Johanes Budisutrisno Kotjo (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/jh)

 

Jakarta, Gatra.com - Keponakan sekaligus staf ahli Eni Maulani Saragih, Tahta Maharaya, mengaku sempat menerima uang dari bos PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk, Samin Tan sejumlah Rp1 miliar dan Idrus Marham sejumlah SGD18,000.

 

"Saya tidak tahu jumlahnya, pas dalam cross check pemeriksaan di KPK baru saya tahu. Ini baru tahu dari Bu Eni Rp1 miliar," kata Tahta saat bersaksi untuk terdakwa Johanes Budisutrisno Kotjo, bos Blackgold Natural Resources (BNR) Limited di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis petang (11/10).

Menurut Tahta, uang tersebut diserahkan staf Samintan di kantornya. Namun waktu itu staf Samintan hanya menyerahkan tas. "Tas saja. Itu ada tandaterimanya bunyinya [isinya] 'buah'," ungkapnya.

Sedangkan saat majelis hakim menanyakan bagaimana awalnya bisa menerima uang sejumlah itu dari Samin Tan, Tahta menuturkan, bahwa awalnya Eni memberinya nomor telepon untuk menemui Samin Tan.

"Samintan saya ketemu stafnya, saya cuma dikasih nomor telepon untuk menghubungi stafnya tersebut. Ketemu di kantornya Samin Tan," ujarnya.

Tahta juga mengaku sempat menerima uang SGD18.000 dari Idrus Marham. "Dari Pak Idrus Marham, saya terima itu 18 ribu Dolar Singapur. Tidak terima dari Idrus, terima dari sopirnya," ujar Tahta.

Setelah menerima uang dari sopirnya Idrus, Tahta tidak langsung menyerahkan kepada Eni karena Eni sedang tidak berada di Jakarta atau sedang berada di luar kota. "Saya di Jakartta, jadi ada jeda dua hari, baru saya serahkan," katanya.

Tahta juga mengakui 4 kali menerima uang dari Kotjo yang totalnya Rp4,7 miliar. Uang tersebut diserahkan Kotjo melalui sekretarisnya di kantor dia yang berada di lantai 8 Graha BI. "Awalnya dikasih tahu untuk ketemu Pak Kotjo di lantai 8 Graha BIP untuk ketemu," katanya.

Setiap kali setelah menerima uang dari Kotjo, Tahta mengaku langsung menyerahkannya kepada Eni. "Empat kali [menerima], langsung ke Bu Eni, semuanya."

Sekretaris Kotjo, Audrey Ratna Justianty, membenarkan sempat memberikan uang atas perintah bosnya. Uang diserahkan kepada Tahta untuk Eni. "Empat kali menyerahkan. Pertama Rp2 miliar itu cek. Nilainya Rp2 miliar yang tanda tangan Johanes Kotjo. Diserahkan kepada Tahta untuk Bu Eni, Desember 2017," ungkapnya.

Sedangkan pemberian kedua sejumlah Rp2 miliar diserahkan pada bulan Maret. "Cash Rp2 miliar. Dibungkus berapa saya enggak inget. Di tas plastik biasa, itu Rp2 miliar. Yang menerima Tahta, orangnya Bu Eni, diserhkan di kantor," ujarnya.

Kemudian yang ketiga sejumlah Rp250 juta secara tunai (cash). Uang diserahkan pada Juni. "Rp250 cash. Biasnaya dibungkus amplop cokelat dulu, baru kresek. Yang keempat Rp500 juta cash. Jadikan 3 bungkus: 200, 200, 100. Total Rp4,750 miliar. Yang nerima Tahta," katanya.

Dalam perkara ini, jaksa penuntut umum KPK mendakwa Johanes Budisutrisno Kotjo menyuap Eni Maulani Saragih selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dan Idrus Marham sejumlah Rp4.750.000.000 secara bertahap.

Kotjo melakukan penyuapan tersebut agar Eni membantunya mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Riau 1 (PLTU MT Riau 1) antara PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PT PJBI), BNR Ltd, dan China Huadian Engineering Company Ltd (CHEC Ltd) yang dibawanya.

Jaksa penuntut umum KPK mendakwa Kotjo melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.

Atau melanggar dakwaan kedua yakni Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.


Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
12-10-2018 12:35