Main Menu

Jokowi Disebut Tampilkan Sisi Milenial Saat Berpidato ’Game of Thrones ’

Wem Fernandez
12-10-2018 14:13

Presiden Joko Widodo saat memberi pidato sambutan pada pembukaan Annual Meeting IMF-WBG 2018 di Bali (ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Puspa Perwitasari/jh) 

 

Jakarta, Gatra.com - Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat kejutan saat memberikan sambutan pada pembukaan Annual Meetings IMF-World Bank Group, di Nusa Dua Hall Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (12/10) hari ini.

 

Dalam pidatonya, Jokowi menganalogikan hubungan ekonomi antar negara dunia bak serial Game of Thrones, dimana terjadi keretakan antara aliansi negara-negara ekonomi maju.

Semakin sibuk bertarung, negara-negara dunia lupa akan adanya bahaya lain yang justru memiliki kekuatan lebih dahsyat untuk menghancurkan dunia.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding menyebutkan, dengan pidato ini Jokowi telah dengan jelas menunjukan sisi milenialnya.

Dia menganalogikan persoalan dunia dengan sesuatu yang lebih muda dicerna oleh semua lapisan masyarakat.

“Oh iya, pasti kalau itu (Menunjukan sisi milenialnya). Enggak usah diomongin. Pak Jokowi kan dalam banyak kesempatan, statement maupun tindakan selalu simboliknya, ciri khasnya milenial,” tegas Karding di Posko Cemara, Jumat (12/10).

Serial Game of Thrones, lanjut Karding, ditandai dengan perebutan singgasana (The Iron Throne) antara great houses atau great families. Sama seperti negara di dunia, baik yang maju atau berkembang, hari ini ‘bertarung’ untuk merebut resource dalam berbagai bidang.

“Dan kita lupa bahwa ada juga hal penting yang tidak mendapatkan penanganan yang lebih serius, yaitu menurunnya ekosistem kita dengan perubahan iklim. Perubahan iklim itu terlihat dengan gejala topan yang terus terjadi di Amerika, di belahan Eropa, dan kemudian di Jepang dan Filipina. Sampah plastik yang banyak terbuang di laut, mencemari makanan kita dan itu bahaya bagi masa depan bangsa dunia, warga dunia,” ujar Karding.

Oleh sebab itu, lanjut Karding, Jokowi mengajak warga dunia untuk merubah paradigma dari yang sebelumnya kompetisi menjadi kolaborasi.

Tidak hanya antar negara maju semata, melainkan juga dengan negara berkembang atau negara tertinggal.

“Itu yang harus kita apresiasi karena Pak Jokowi telah menunjukan kapasitasnya sebagai, tidak hanya pemimpin Indonesia, tapi juga pemimpin dunia,” terang dia.

Presiden Jokowi menganalogikan keadaan dunia bak serial Game of Thrones. Dalam serial itu terjadi pertarungan seru antara great houses, great families agar memegang kendali penuh The Iron Throne.

Pertarungan itu terus terjadi seperti roda besar yang berputar, di satu waktu ada Great Houses yang berkuasa dan yang lain mengalami kesulitan.

Dibalik pertarungan tersebut, para great families atau houses ini lupa akan adanya bahaya lain yang diam-diam mengintai dari utara yakni seorang Evil Winter yang dengan kapasitasnya bisa menyelimuti dunia dengan es dan kehancuran.

“Yang penting adalah kekuatan bersama untuk mengalahkan Evil Winter, agar bencana global tidak terjadi, agar dunia tidak berubah menjadi tanah tandus yang porak-poranda yang menyengsarakan kita semuanya,” papar Jokowi.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Wem Fernandez
12-10-2018 14:13