Main Menu

KPK Tahan Eks Petinggi Lippo Eddy Sindoro

Iwan Sutiawan
12-10-2018 20:47

Juru bicara KPK, Febri Diansyah. (GATRA/Iwan Sutiawan/re1)

Jakarta, Gatra.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro, selaku tersangka dalam kasus dugaan suap Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).

 

"Ditahan di Rutan cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur selama 20 hari pertama," kata Febri Diansyah, juru bicara KPK di Jakarta, Jumat (12/10).

Penyidik menahan tersangka Eddy usai yang bersangkutan menyerahkan diri kepada KPK di Singapura setelah sekitar 2 tahun melarikan diri ke beberapa negara pasca ditetapkan sebagai tersangka.

Sekitar pukul 12.20 waktu Singapura, tim baru membawa Eddy ke Indonesia. "Sebagai bagian dari proses penyidikan juga dilakukan penangkapan terhadap tersangka sesuai hukum acara yang berlaku. Sekitar pukul 14.30 WIB, tim yang membawa ESI tiba di Gedung KPK dan saat ini sedang dalam proses pemeriksaan," katanya.

Penetapan tersangka Eddy merupakan hasil pengembangan dari kasus suap yang melilit Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution dan karyawan PT Artha Pratama Anugerah, Doddy Aryanto Supeno.

KPK menangkap Edy dan Doddy di area parkir salah satu hotel di Jakarta Pusat, April 2016, setelah keduanya melakukan serah-terima uang suap. Pengadilan memvonis Doddy 4 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider 3 bulan kurungan. Sementara Edy divonis 5,5 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider 2 bulan kurungan.

Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menyatakan Edy terbukti secara sah dan meyakinkan meneria suap secara bertahap dari Lippo Group terkait pengurusan sejumlah perkara perusahaan yang bernaung di bawah grup ini.

Meski demikian, majelis menyatakan Edy tidak terbukti menerima uang sejumlah Rp1,5 miliar dari salah satu anak perusahaan Lippo Group. Uang sejumlah itu awalnya merupakan permintaan Nurhadi selaku Sekretaris Mahkamah Agung (MA) yang akan digunakan untuk membiayai turnamen tenis MA di Bali.

Bukan hanya itu, majelis juga mengembalikan barang bukti kepada Edy, di antaranya uang US$3,000, SGD1,800, dan Rp2,3 juta, serta kendaraan. Menurut hakim, dakwaan tersebut hanya sebatas anggapan dan belum bisa dibuktikan.

Sedangkan di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) memvonis Edy Nasution 8 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider 6 bulan kurungan. Vonis ini lebih berat dari putudan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta yang memvonis 5,5 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider 2 bulan kurungan.


Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
12-10-2018 20:47