Main Menu

Cak Nun: Ada Penyempitan Makna Ajaran Islam

Tian Arief
26-12-2016 10:51

Cak Nun (GATRAnews/Antara Foto/Destyan Sujarwoko)

London, GATRAnews - Budayawan/intelektual muslim Muhammad (Emha) Ainun Nadjib menilai, ada kebingungan di masyarakat muslim Indonesia dalam menghadapi situasi terkini dan terdapat kecenderungan atau indikasi penyempitan makna ajaran Islam. Hal itu diungkapkan budayawan yang biasa dipanggil Cak Nun itu, dalam diskusi kebudayaan memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW di Brussel, Belgia, yang dikutip Antara London, Senin (26/12). 

Menurut Ketua Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Brussel, Lanang Seputro, Cak Nun dalam diskusi yang berlangsung hangat, di tengah udara musim dingin Eropa, mengatakan, masyarakat Indonesia cenderung menghakimi umat agama lain ataupun umat muslim lainnya dengan pemahaman yang dangkal.

Dia mencontohkan, yang tidak ikut demo 212 bukan muslim atau nasionalis, dan kalau nasionalis berarti tidak Islam. "Jadi ada perasaan sentimen kami atau mereka, kalau nggak sama dengan kami berarti mereka berarti musuh," ujar Cak Nun.

Menurut Cak Nun, perilaku seperti ini berkontribusi terhadap citra masyarakat muslim dan Islam di mata internasional, yang dianggap brutal. Padahal Islam, menurut Cak Nun, adalah tenaga di pikiran dan cahaya di hati, dan jika itu dipahami dan diterapkan dengan baik maka Islam sebagai Rahmatan lil Alamin, dapat tercapai.

Cak Nun juga menilai, pemahaman isi atau content seringkali dilupakan. Orang sudah sombong dengan pengetahuan sebatas "kulit". Ia juga melihat potret Islam yang dilihat masyarakat internasional juga kurang pas, karena umat Islam sendiri belum sempat memunculkan Islam yang benar dalam konteks Indonesia.

Pemahaman Islam yang utuh juga tidak sempat berlanjut ketika upaya para Wali Sembilan atau Wali Songo tidak berlanjut. Keburu terjadi pertikaian politik yang akhirnya juga mengotak-ngotakkan masyarakat muslim Indonesia. Selain itu terdapat pemahaman Islam sekadar budaya dan masyarakat cenderung mengikuti ajaran Islam secara kaku.

Padahal dalam ajaran Islam yang ada di Al-Quran, isinya 3,5% akidah, dan 96,5% adalah ibadah muamalah. Kebanyakan masyarakat muslim sendiri terpaku pada 3,5% itu. Dia menuturkan, kadang-kadang tanpa pengetahuan dan pemahaman yang kuat, ada yang dengan gampang mengharamkan suatu tindakan. Padahal yang bisa mengharamkan sesuatu adalah Allah.

Sebagian masyarakat muslim, memahami Islam itu datang bersama Nabi Muhammad, padahal sesungguhnya Islam ada sejak Allah menciptakan alam semesta.

Cak Nun juga menyitir surat Al Maidah ayat 54, yang dikatakan ada penerjemahan yang kurang pas di ayat tersebut diterjemahkan sebagai berlakulah adil kepada kaum muslimin dan bersikap keras terhadap umat lain.

Menurut Cak Nun seharusnya "bersikaplah adil kepada kaum muslimin dan besikap sayang, sorry, atau aziz kepada umat lain." Maksudnya sayang atau sorry terhadap umat, ujarnya, bukan Islam, karena sesungguhnya Islam adalah untuk seluruh umat dan alam semesta, seharusnya umat Islam menunjukkan kepada umat lain tersebut kepada kebenaran dengan cara-cara yang baik.

Mengajak ke yang benar itu pakai cara persuasif sehingga orang akan simpati dan senang seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Sementara itu, Dubes RI untuk Brussel Yuri O. Thamrin menilai, seandainya pemikiran Cak Nun ini dipahami masyarakat internasional mungkin akan bisa memberikan alternatif terhadap citra Islam.

Menurut Minister Counsellor Fungsi Politik KBRI Brusel, Lanang Seputro, secara substansi materi diskusi yang dibahas Cak Nun sangat bagus dan konsisten dengan pemikiran Cak Nun selama ini.

Kunjungan Cak Nun di tiga negara di Eropa, yaitu Jerman, Belgia dan Belanda, pada 22-28 Desember, sebagai persiapan Cak Nun dan kelompok seninya, Kiai Kanjeng, yang ikut memeriahkan Festival Europalia, dimana Indonesia sebagai partner country pada tahun 2017.

Diskusi itu digelar di Aula KBRI Brussel dihadiri Dubes Yuri. Acara itu terlaksana berkat kerja sama PPI Belgia, Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Belgia, PCINU Belgia dan didukung KBRI Brussel.

Cak Nun melakukan perjalanan di lima kota di Eropa, yaitu Hannover, Frankfurt, Brussels, Amsterdam & Den Haag dalam rangka diskusi kebudayaan memeriahkan Maulid Nabi. Ia datang bersama istrinya, Novia Kolopaking, atas kerja sama antara alumni Gontor di Eropa, PPI Jerman, Belgia, Belanda & PCI NU.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
26-12-2016 10:51