Main Menu

Blokir Website Media Islam, Pemerintah Tidak Teliti

Abdul Rozak
07-01-2017 14:06

Jakarta, GATRAnews - Forum Jurnalis Muslim menilai pemblokiran sejumlah website media Islam dinilai gegabah dan tidak jelas. Alasan pemblokiran dinilai tidak kuat dan mengada-ada.


Pemblokiran situs media Islam di era pemerintahan Presiden Jokowi dimulai pada tanggal 30 Maret 2015. Sebanyak 19 situs ditutup oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Saat itu ada gemaislam.com ikut diblokir, milik ormas Perhimpunan Al Ikhasan, atas tuduhan saat itu menyebarkan radikalisme. Padahal gemaislam.com sering kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) soal terorisme," ungkap Sekretaris Forum Jurnalis Muslim Sodik Ramadhan, Sabtu (7/1).

Pemblokiran situs media Islam gelombang kedua terjadi pada tanggal 31 Oktober 2016. Sebanyak tiga situs dimatikan pemerintah dengan tuduhan yang sama.

Sodik menambahkan 3 November 2016, Kemenkominfo memblokir 11 media yang dituduh menyebarkan radikalisme. Antara lain situs suaraislam.com yang dikelola oleh Sodik di bawah gabungan beberapa ormas dan SMS Tauhid milik KH Abdullah Gymnastiar.

Alasan yang dikemukan pemerintah adalah karena pihaknya memuat pemberitaan soal seruan jihad konstitusional dengan berdemo pada 4 November 2016. Seruan datang dari seorang ulama Ibu Kota dalam sebuah tabligh akbar.

"Jihad konstitusional itu berunjuk rasa yang dijamin UU, ini dianggap salah dan langsung diblokir. Karena satu berita itu saja," lanjutnya.

Selanjutnya dilakukan pada tanggal 30 Desember 2016, di mana ada 11 website media Islam ditutup pemerintah dengan alasan sama yaitu radikalisme. Anehnya beberapa media yang diblokir sudah mati sejak lama.

"Jadi dari kejadian-kejadian ini kita melihat ada ketidaktelitian, enggak jeli dan enggak adil. Ada permintaan blokir, hajar saja ini kementerian," pungkas Sodik.


Reporter: Abdul Rozak
Editor: Arief Prasetyo

Abdul Rozak
07-01-2017 14:06