Main Menu

Riset Citra Bangsa: Keberagaman, Modal Kuat untuk ''Nation Branding'' Indonesia

Ervan
13-02-2017 20:58

Jakarta, GATRAnews - Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman adalah aset utama bangsa Indonesia. Keberagaman ini antara lain tampak dalam bidang seni, budaya, kuliner, dan sejarah. Di antara kelebihan dan kekurangan terkait persepsi tentang Indonesia, keberagaman atau diversity menjadi kekuatan Indonesia yang layak ditonjolkan di dunia internasional.  

Kesimpulan itu terangkum dalam paparan hasil studi dan riset Citra Indonesia oleh Kantor Staf Presiden di Bina Graha, Senin, 13 Februari 2017. Seperti diketahui, Presiden Jokowi dua kali menggelar Rapat Terbatas bertema pembentukan Citra Bangsa Indonesia, pada 27 September 2016 dan 3 Februari 2017 lalu. “Keberagaman adalah keunggulan kita, bahkan Simon Anholt menyebutkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan motto yang paling tepat untuk seluruh bangsa di abad ke-21 ini,” kata Deputi III Kepala Staf Kepresidenan yang membidangi kajian isu ekonomi strategis, Denni Puspa Purbasari. 

Simon Anholt merupakan pelopor The Good Country Index serta dianggap sebagai pelopor citra atau branding dari sebuah negara serta tempat berdasarkan ukuran-uuran tertentu. Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan FutureBrand dan The Good Country Index, harus diakui, peringkat Citra Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara lain. Dari 118 branding negara yang diukur FutureBrand 2014-2015, Indonesia ada di peringkat ke-66, dengan lima besar ditempati oleh Jepang, Swiss, Jerman, Swedia, dan Kanada.

Sementara itu, data The Good Country Index 2016 menempatkan Indonesia di posisi ke-77 dari 163 negara dengan lima teratas diduduki Swedia, Denmark, Belanda, Inggris Raya, dan Swiss. Jumlah wisatawan Indonesia yang mencapai 10 juta orang tahun lalu, jauh di bawah Singapura (15 juta), Malaysia (26 juta), dan Thailand (30 juta). “Saat ini belum ada Citra Indonesia, yang ada yakni promosi sectoral, yakni Wonderful Indonesia di bidang pariwisata, 100% Indonesia di bidang Industri serta Remarkable Indonesia di bidang perdagangan dan Investasi,” kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden Eric Sumartono Darmanto.

Riset hasil kerjasama antara Kantor Staf Preisden dan Kementerian Perdagagan ini dilakukan secara luas dengan 7610 wawancara kuantitatif, 390 interaksi kualitatif dan 26 wawancara dengan pemangku kepentingan/pemuka pendapat di 16 negara. Temuan Anholt-GFK Roper Nation Brand Index 2016 menyebutkan ranking Indonesia di posisi ke-40 dari 50 negara, jauh di bawah China (24), Singapura (25), India (30) dan Thailand (31).  

Ranking Indonesia terendah di antara pesaing utama, dengan titik lemah ada pada unsur manusia (ramah, tapi skornya tidak tinggi untuk masalah Tenaga kerja) dan budaya (skornya baik untuk warisan budaya tapi lemah dalam sport/budaya kontemporer). Denni Purbasari menegaskan, Citra Bangsa atau Nation Branding tidak sekedar membuat logo atau tagline baru, tapi bagaimana menginspirasi dan bergerak bersama mewujudkan gol sesuai citra itu.  “Riset ini dilakukan di 16 negara yang dengan wawancara secara langsung, sehingga menjamin kualitas yang akurat baik,” jelasnya.

Riset dari Juni hingga Desember 2016 ini menitik beratkan kepada pengetahuan dan pandangan mengenai indonesia, seperti ‘Apakah anda tahu tentang Indonesia?’ ‘Bagaimana Anda melihat Indonesia terhadap kompetitor?’ ‘Apa presepsi kelemahan atau kelebihan tentang Indonesia’ dan lain-lain. Setelah riset dihasilkan, langkah selanjutnya menyampaikan kepada kementerian dan lembaga agar menindaklanjuti temuan riset. Selanjutnya, mempersiapkan tim Perpres dari kementerian dan lembaga ini, dan mengawal sampai lahir Citra Bangsa yang diharapkan terbentuk menjelang Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. 


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Nur Hidayat

 

 

Ervan
13-02-2017 20:58