Main Menu

Gema Indonesia: Waspadai Politisisasi Agama di Aksi 212 Jilid II

Ervan
20-02-2017 20:42

Aksi Bela Islam 212 (GATRAnews/Abdurachman)

Jakarta, GATRAnews - Gerakan Mahasiswa Indonesia (GEMA Indonesia) menyoroti proses politik kontestasi menuju putaran kedua di Pilkada DKI Jakarta. GEMA  menyerukan kepada semua pihak untuk menyikapi dengan kedewasaan dalam berdemokrasi terutama dalam terkait aksi 21 Februari 2017 (aksi 212 jilid II) yang akan diarahkan ke Gedung DPR RI.

 

"Kami mengimbau semua pihak untuk menahan diri. Tidak perlu pengerahan massa untuk sekedar menunjukkan bahwa punya massa. Selesaikan secara gentle melalui Pilkada putaran kedua," terang Koordinator Gema Indonesia Yusuf Aryadi saat jumpa pers di Dunkin Donats, Jakarta, Senin (20/2).

 

Untuk diketahui, Gema Indonesia tergabung dari beberapa kampus diantaranya Borobudur, STIE Ganesha, STIE SWADAYA, STKIP Kusuma Negara, Univ Asyafiiyah, dan Univ Islam Jakarta.

 

[column_item col="3"]

Baca juga: Ternyata, Yusuf Mansur Menyamar di Aksi Super Damai 212

Baca juga: Front Pemuda Indonesia 'FPI': Aksi 212 Rawan Upaya Makar

Baca juga: Massa "Aksi 212 Jilid II" Akan Ditemui Pimpinan Komisi Hukum[/column_item]Menurut Yusuf, jika sudah yakin punya massa banyak maka percaya diri sajalah mampu memenangi Pilkada. Tidak perlu memobilisasi massa apalagi membawa isu-isu agama. 

 

"Waspadai politisasi agama, itu kemunduran demokrasi Indonesia yang sedang bertumbuh, kecuali memang fenomena ini dilakukan oleh kelompok anti demokrasi yang membajak ruang demokrasi," ucapnya.

 

Kendati demikian, Yusuf mengaku tidak melarang untuk membela agama dan ulama namun kata dia, momentum kali ini dianggap tidak tepat karena masih dalam proses persaingan Pilkada, apalagi jika ditemukan ternyata mereka ini bagian dari pendukung paslon Pilkada. Sehingga masyarakat akan menilai bahwa gerakan ini tidak murni lagi dan disebut sebagai bela calon Pilkada.

 

"Sekali lagi tidak perlu pengerahan massa besar-besaran untuk menyampaikan aspirasi, mengingat situasi kondisi nasional yang sedang mengalami dinamika. Percayakan pada wakil rakyat untuk menyelesaikan persoalan politik dan percayakan pada penegak hukum untuk menyelesaikan masalah hukum," bebernya.

 

Selain itu, pihaknya menghimbau agar menghindari isu-isu SARA karena berpotensi menimbulkan luka bagi persatuan dan kesatuan Indonesia dan kepada mahasiswa yang akan ikut aksi untuk berpikir ulang dampak aksi yang mengusung isu-isu SARA guna menghindari konflik sesama anak bangsa.

 

"Kepada pihak kepolisian, jangan segan-segan untuk bisa bertindak tegas terhadap aksi-aksi yang berdampak pada ketertiban masyarakat," tuturnya.


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Dani Hamdani  

 

Ervan
20-02-2017 20:42