Main Menu

Piagam Den Haag: Indonesia Harus Tetap Rawat Islam Nusantara

Tian Arief
01-04-2017 14:41

Piagam Den Haag

Jakarta, GATRAnews - Bangsa Indonesia harus terus merawat, memupuk, dan menumbuhkembangkan Islam Nusantara, serta membuatnya kian responsif di tengah proses transformasi global yang menimbulkan dampak ketimpangan, krisis identitas dan pergolakan geo-politik yang marak dewasa ini. Demikian poin pertama Piagam Den Haag, yang dihasilkan Konferensi Internasional Mengenai Islam Moderat di Indonesia.

Pada poin keenam piagam tersebut juga ditegaskan agar menentang segala bentuk fanatisme keagamaan, penyelewengan atas segala hal yang dianggap sakral, maupun semua bentuk ceramah yang menyeru kepada kebencian dan kepicikan.

Menurut siaran pers yang diterima GATRAnews, di Jakarta, Sabtu (1/4), konferensi yang digelar pada pertengahan pekan lalu itu digelar di kampus Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, itu mengangkat tema “Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance”.

Poin kedua Piagam Den Haag yang dibacakan Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah itu menyebutkan, bangsa Indonesia dengan modal sosial-politik Islam Nusantara harus terus  berperan aktif dalam mengarusutamakan pesan-pesan dasar Islam mengenai perdamaian, keadilan, persaudaraan, dan kemaslahatan seluruh umat manusia.

Sedangkan Poin ketiga hingga keenam, berturut-turut: bangsa Indonesia perlu menjadikan Islam Nusantara sebagai bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia dalam rangka mewujudkan politik luar negeri yang bebas dan aktif, sesuai amanat konstitusi.

Selanjutnya, bangsa Indonesia dituntut untuk mengoptimalkan kerja sama dan kontribusi dari seluruh potensi yang mendukung visi di atas, baik di dalam negeri sendiri, di antara para diaspora Indonesia di berbagai negara, maupun para mitra di semua negara sahabat.

Kemudian menyerukan kepada seluruh bangsa dan pemerintahan di dunia untuk bersama-sama dan bahu membahu “melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Berikutnya, menyerukan kepada anggota Nahdlatul Ulama pada khususnya, dan seluruh umat Islam Indonesia pada umumnya, untuk terlibat aktif dengan semua komponen bangsa dalam mewujudkan tradisi Islam yang penuh rahmat seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan dalam menentang segala bentuk fanatisme keagamaan, penyelewengan atas segala hal yang dianggap sakral, maupun semua bentuk ceramah yang menyeru kepada kebencian dan kepicikan.

Konferensi yang digelar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda ini terselenggara berkat dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag dan Kementerian Agama Republik Indonesia, serta atas kerja sama erat dengan Vrije Universiteit Amsterdam, Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME), Belanda, dan Masjid Al-Hikmah, Den Haag.

Piagam Den Haag ditandatangani sepuluh pihak, yakni Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Duta Besar RI untuk Aljazair, Libanon, Arab Saudi dan Azerbaijan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, perwakilan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU), perwakilan diaspora Muslim Indonesia di Belanda, lalu aktivis dialog agama dan perdamaian di Belanda.

Selain itu ditandatangani pula oleh 120 hadirin pada acara Nusantara Night di lembar terpisah dengan sepuluh pihak tersebut, sebagai bentuk dukungan moral terhadap pesan yang disuarakan oleh Piagam Den Haag ini.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
01-04-2017 14:41