Main Menu

Lima Dubes RI di Lima Negara Hadiri Konferensi Islam Nusantara

Tian Arief
01-04-2017 14:59

Jakarta, GATRAnews - Lima duta besar Republik Indonesia yang bertugas di lima negara menghadiri Konferensi Internasional Islam Nusantara yang digelar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda, di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda. Kelima dubes tersebut, masing-masing I Gusti Agung Wesaka Puja (Dubes RI untuk Kerajaan Belanda), Safira Machrusah (Aljazair), Achmad Chozin Chumaidy (Lebanon), Agus Maftuh Abegebriel (Arab Saudi), dan Husnan Bey Fananie (Azerbaijan).

Menurut siaran pers yang diterima GATRAnews, di Jakarta, Sabtu (1/4), konferensi ini dihadiri 30 orang pemakalah dengan 250 peserta dari berbagai negara dan disiplin ilmu, pada forum ilmiah yang dibuka oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin.

Dari kalangan Nahdliyyin, hadir KH Zulfa Mustofa (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), dan puluhan perwakilan Cabang Istimewa NU dari berbagai negara, yakni Belgia, Jerman, Inggris, Rusia, Maroko, Tunisia, Lebanon, dan Malaysia.

Konferensi internasional Islam Nusantara yang di masa depan diharapkan akan menjadi agenda dua tahunan (biennial) ini terdiri atas dua bagian, yakni kuliah umum dan diskusi panel. Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin membuka acara dan sekaligus menyampaikan keynote speech pada sesi kuliah umum.

Kemudian dilanjutkan Dubes RI untuk Aljazair Safira Machrusah yang membacakan Piagam Den Haag, dan intelektual muda NU Ahmad Baso, peneliti mengenai Islam di Eropa Prof. Dr. Thijl Sunier dari Vrije Universiteit Amsterdam, serta Dr. Adib Abdus Shomad dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama.

Diskusi panel

Konferensi itu menggelar diskusi panel, yang dibagi menjadi delapan kelompok yang membahas Islam Nusantara dari berbagai aspek berbeda, yakni:
1.  Akar intelektual dan relevansi kekinian; 2. Reproduksi dan diseminasi melalui berbagai institusi pendidikan; 3. Dinamika hukum Islam, adat dan sistem legal; 4. Dinamika demokrasi, kewarganegaraan dan hak asasi manusia; 5. Konteks ketimpangan sosial-ekonomi dan krisis ekologi; 6. Dinamika “media baru” dan otoritas keagamaan; 7. Konteks pluralitas keagamaan; dan 8. Dialog dengan lokalitas, termasuk dalam konteks Eropa.

Konferensi ini ditutup dengan beberapa catatan kritis yang disampaikanProf. Dr. Karel Steenbrink dari Utrecht University.

Selain ceramah dan diskusi, konferensi ini juga diisi dengan photo exhibition yang menampilkan presentasi poster dan foto-foto terpilih mengenai berbagai sisi kehidupan Islam Nusantara di Indonesia.

Disebutkan, secara keseluruhan konferensi internasional ini menyampaikan pesan kunci berupa signifikansi Islam Nusantara terhadap upaya-upaya global menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia di seluruh dunia dewasa ini, seperti kekerasan sektarian, ketimpangan sosial-ekonomi, xenophobia, Islamophobia, dan krisis ekologi global.

Selain itu, konferensi ini juga mendeklarasikan Piagam Den Haag, untuk menguatkan pesan kunci ini, hasil-hasil konferensi, dengan judul “Islam Nusantara untuk Perdamaian, Keadilan dan Persaudaraan Seluruh Umat Manusia”.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
01-04-2017 14:59