Main Menu

Islamic Credential, Faktor Penting Cawapres Jokowi  

Rosyid
20-10-2017 19:37

Burhanuddin Muhtadi (Gatrafoto/Adi Wijaya/AK9)

Jakarta, gatracom - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai masih menghadapi tantangan cukup berat untuk merebut suara di kantong-kantong pemilih muslim terutama di daerah Sumatra dan Jawa Bagian Barat.


Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam Diskusi “Siapa Cawapres Jokowi 2019” yang diadakan Projo (20/10) mengatakan bahwa segmen pemilih Muslim umumnya berasal dari kantong partai-partai Islam dalam Pemilu 1955. Jumlah pemilih tersebut mencakup 42% penduduk Indonesia.


"Di basis Partai Masyumi, Pak Jokowi masih berat sampai sekarang. Terutama di Sumatra dan Jawa Barat, Banten. Sedangkan di daerah Nahdlatul Ulama, Pak Jokowi aman," ujarnya. Keadaan ini membuat sosok Calon Wakil Presiden (cawapres) Jokowi di Pilpres 2019 menjadi sangat menentukan.

Dalam survei yang dilakukan Indikator Politik pada 17-24 September 2017 lalu, salah satu nama Cawapres yang menjadi favorit pemilih muslim adalah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Meskipun, elektabilitas Gatot berada di bawah nama mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Basuki dan Gatot menduduki posisi dua besar dalam simulasi 16 dan 8 nama kandidat cawapres Jokowi. Ketika diberikan 16 pilihan, responden pemilih Basuki dan Gatot masing-masing 16% dan 10%.

Saat nama calon dikerucutkan menjadi 8 nama, keduanya memperoleh dukungan berturut-turut 17% dan 14%. “Kita bisa lihat, pendukung Pak Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) itu tidak bertambah (signifikan) meski nama dikerucutkan. Pemilihnya, dalam asumsi saya adalah pemilih loyal. Meski begitu, jumlahnya tidak bertambah walaupun nama yang disodorkan lebih mengerucut,” jelas Burhanudin.


Ketika nama Basuki disisihkan dan nama cawapres dikerucutkan menjadi 3 nama, Gatot mendapatkan 25% suara, diikuti Menteri Keuangan Sri Mulyani sebesar 24% dan Kepala Polri Jenderal Pol. Tito Karnavian 12%.


Burhanudin juga menjelaskan bahwa pada 2014, ketika maju sebagai cawapres Jusuf Kalla (JK) cukup bisa merepresentasikan sosok yang tepat untuk merebut suara muslim. Hal ini terjadi karena dirinya dinilai memiliki faktor “Islamic Credential” yang cukup. Sebut saja background JK sebagai Tokoh HMI, Ketua Dewan Masjid, elite Kahmi Indonesia Timur, dan Nahdlatul Ulama. “Kalau misalnya ada kualifikasi wapres yang secara elektoral mendekati pak JK mungkin Pak Jokowi akan sangat terbantu,” kata Burhanuddin.


Sementara itu, Ketua Projo Budi Arie Setiadi, di tempat yang sama mengatakan bahwa pertarungan terbesar di tahun 2019 adalah pertarungan mencari Cawapres. “Projo selalu yakin Pak Jokowi tetap akan menjadi Presiden di 2019. Masalah cawapres, siapapun dia Projo akan selalu mendukung,” katanya.


 

Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor: Rosyid

Rosyid
20-10-2017 19:37