Main Menu

Angka Cerai Tinggi, Menteri Agama Minta KUA Proaktif

Mukhlison Sri Widodo
18-12-2017 18:57

Ilustrasi (Antara/yus4)

Yogyakarta, Gatra.com- Angka penceraian yang tinggi di Indonesia, dinilai sebagai dampak dari gaya hidup pasangan saat ini. Kantor Urusan Agama (KUA) diminta lebih proaktif melakukan bimbingan pranikah kepada calon pengantin.

 

Dalam pembukaan ‘Gebyar Kerukunan 2017’ di GOR UNY DI Yogyakarta, Senin (18/12), Menag Lukman Hakim Saifudin menyatakan angka penceraian meningkat di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Pernikahan saat ini dianggap tidak lagi sakral. Bahkan kami menemukan kasus pernikahan yang disepakati hanya berlangsung dua tahun kemudian bercerai,” kata Menag.

Karena pernikahan tidak lagi dinilai sakral, cerai dianggap sebagai gaya hidup dan seseorang yang bercerai semakin diterima dalam sebuah komunitas.

Apalagi saat ini ada kecenderungan upacara akad nikah tidak lagi membacakan sighat ta’lig atau janji yang diucapkan calon suami untuk selalu melindungi istri. Sighat ta’lig sekarang ini hanya ditandatangani, bukan diucapkan.

“Sighat ta’lig ini untuk memastikan ketika suami dalam waktu tertentu tidak memberi nafkah lahir kepada istri, maka istri berhak menggugat cerai. Ini yang saya maksud sebagai perlindungan perempuan dalam pernikahan,” jelas Menag.

Padahal dalam agama, pernikahan bukan sekadar ikatan janji dua lawan jenis, namun juga peristiwa suci karena merupakan akad dengan Tuhan yang mensyaratkan manusia menikah.

Karena itu, Menag menginstruksikan semua KUA untuk tidak lagi sekadar menjadi balai nikah. Tapi juga menjadi pembimbing calon pengantin tentang nilai-nilai dan tujuan pernikahan.

Menurut Menag, DI Yogyakarta menjadi proyek percontohan dengan peluncuran 10 KUA yang menjadi balai pembimbing pernikahan. Sepuluh KUA itu juga difungsikan sebagai pelatihan manasik haji agar rukun Islam kelima ini tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Agama Muhammad Lutfi Hamid menyambut baik 10 KUA percontohan ini dan menginstruksikan kepada semua jajaran untuk menyukseskannya.

“Di lapangan, tantangan terberat memberikan bimbingan kepada calon pengantin adalah tidak hadirnya salah satu calon karena sedang bekerja,” katanya.

Lutfi berharap, jajarannya juga menyukseskan empat program Kemenag lain yang menjadikan DI Yogyakarta sebagai percontohan. Empat program itu yaitu; E-Data Umroh, E-Audit, E-RPD (Rencana Penarikan Dana), dan sistem penilaian internal pemerintah (SPIP).

Selain meresmikan program internal dan KUA percontohan, Menag juga memberikan kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk 5.327 siswa MA, 7.020 siswa MTS, dan 2.433 siswa MA.


Reporter : Arif Koes

Editor : MUkhlison

Mukhlison Sri Widodo
18-12-2017 18:57