Main Menu

Komarudin Hidayat: Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Menyangkut Harga Diri Bangsa

Dewi Fadhilah Soemanagara
26-01-2018 15:50

Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) memimpin rapat terbatas tentang rencana pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/1). (Antara/Puspa Perwitasari/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), sebuah pusat studi dan peradaban Islam terkemuka akan segera dibangun di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Bertempat di kawasan pemancar RRI (Radio Republik Indonesia) Cimanggis, areal seluas 142 ha itu tengah dalam proses pemantapan sebelum peletakan batu pertama oleh presiden Joko Widodo nanti.

Komarudin Hidayat, cendekiawan muslim, dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sekaligus komite pembangunan UIII, menyampaikan beberapa informasi terkait proyek pembangunan kampus peradaban Islam ini.

Komarudin menyampaikan bahwa Joko Widodo dan Jusuf Kalla sering kali memperoleh apresiasi kehidupan beragama di Indonesia yang toleran, yang selalu berhasil mengatasi konflik. Islam yang damai, toleran, dan mampu menjadi resolusi konflik tersebut menginspirasi Pak Presiden dan Wakil Presiden untuk membangun sebuah kampus pusat peradaban Islam khas Indonesia, tapi tetap memiliki standar-standar internasional. Sebab, selama ini belum ada perguruan tinggi bernuansa Islam yang mampu bersaing di kancah internasional.

"Gagasan ini munculnya dari Presiden dan Wapres. Mereka seringkali memperoleh apresiasi dari pemimpin dunia dalam menjaga keunikan dan keragaman etnis dan agama di Indonesia sehingga orang luar mestinya belajar ke Indonesia. Apresiasi kehidupan beragama di Indonesia yang toleran, yang berhasil mengatasi berbagai konflik. Konflik ada, tapi kan diatasi. Indonesia ini kan sebetulnya paling solid dibanding negara-negara lain kan," ujar Komarudin kepada GATRA.

Untuk proses pembangunan, saat ini sedang dilakukan tahap identifikasi dan verifikasi penghuni ilegal untuk pendataan jumlah dan appraisal. Kata Komarudin, nanti appraisal dari harga kerahiman (uang ganti rugi) yang diberikan sesuai dengan peraturan pemerintah.    

 “Prosesnya sekarang sedang identifikasi verifikasi penghuni ilegal untuk pendataan berapa jumlahnya dan mau menentukan pendataan dan appraisal. Nanti appraisal, harga kerahiman sesuai dengan peraturan pemerintah. Diusahakan Februari ini kalau bisa selesailah. Jadi panitia akan memberikan kerahiman sesuai dengan ketentuan pemerintah," sambungnya.

Kabarnya, dana yang digelontorkan untuk kampus UIII ini mencapai nominal 400 Miliar. Dana yang tidak sedikit, bahkan tersiar kabar dana tersebut khusus dipersiapkan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). “Semua dana dari APBN. Ini menyangkut harga diri bangsa,” tandas Komarudin. 

Pembangunan UIII memang menuai kontroversi. Banyak yang tidak setuju dengan pembangunan kampus ini, mulai dari sejarawan, masyarakat setempat, hingga pemerhati lingkungan. Selain akan meruntuhkan sisa bangunan bersejarah Rumah Cimanggis peninggalan gubernur VOC, Petrus Albertus van der Parra yang sudah terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya tersebut, pemerintah juga dinilai terburu-buru dan tidak memperhatikan aspek tata ruang kota Depok. 


Reporter : DFS

Editor : Sandika Prihatnala 

Dewi Fadhilah Soemanagara
26-01-2018 15:50