Main Menu

Zakat Bisa Jadi Pengurang Penghasilan Kena Pajak

Rosyid
17-04-2018 00:14

Sekretaris BAZNAS Jaja Jaelani. (Dok. Ditjen Bimas Islam/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menargetkan tahun ini bisa mengumpulkan zakat hingga Rp 8 triliun. Terjadi kenaikan sekitar 30 persen dibandingkan pengumpulan tahun 2017 yang tercatat Rp 6 trilun rupiah.

Angka pertumbuhan itu terlihat sangat besar dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi yang tahun ini diperkirakan sekitar 5%. Namun jika mengacu para rerata pertumbuhan pengumpulan zakat infaq dan sedekah antara 2002- 2015 yang mencapai 38,6 persen, angka yang dipatok BAZNAS tahun ini cukup wajar.

Hal itu diungkapkan Drs. H. Jaja Jaelani, MM, Sekretaris BAZNAS dalam Focus Group Discussion Kehumasan tahap II di Jakarta, Senin (16/4). Apalagi potensi zakat nasional jauh lebih besar dari yang terhimpun saat ini. Untuk tahun 2016 saja, potensi zakat infaq sedeqah bisa mencapai Rp 286 triliun

Dalam makalah yang disampaikan dalam diskusi itu, disebutkan bawah dalam rangka pengumpulan zakat, muzaki (pembayar zakat) menghitung sendiri kewajiban zakatnya atau dapat meminta bantuan BAZNAS. Zakat yang dibayarkan oleh muzaki kepada BAZNAS atau LAZ
dikurangkan dari penghasilan kena pajak.

Selanjutnya BAZNAS atau LAZ wajib memberikan bukti setoran zakat kepada setiap muzaki untuk digunakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak.

Zakat yang terkumpul akan dibagikan kepada mustahik (penerima zakat) sesuai dengan syariat Islam. Pendistribusian zakat dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dankewilayahan.

Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangkapenanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat, apabila kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi.


Editor: Rosyid

 

 

Rosyid
17-04-2018 00:14