Main Menu

MUI Padang Imbau Umat Islam Toleran Soal Perbedaan Pendapat

Iwan Sutiawan
07-05-2018 10:00

Ketua MUI Kota Padang, Duski Samad. (Dok. Kemenag Sumbar/FT02)

Padang, Gatra.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), mengimbau setiap muslim berlapang dada, serta mengedepankan toleransi tentang perbedaan pendapat dalam berbagai kajian keagamaan melalui media sosial, TV, dan media lainnya.

"Mari menerima perbedaan pendapat dengan senang hati, tanpa membenci, menghina, mencap sesat, tidak boleh fanatik buta, merasa benar sendiri, merasa paling islami, paling shaleh termasuk jika ada perbedaan awal dan akhir Ramadhan," kata Ketua MUI Kota Padang, Duski Samad di Padang, Senin (7/5), dilansir Antara.

MUI juga meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Padang menertibkan tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan demi menjaga situasi kondusif bagi umat Islam menjalankan ibadah puasa.

"MUI meminta pemkot Padang menertibkan tempat hiburan malam dan mengimbau pengelola restoran serta rumah makan agar tidak berjualan di siang hari," katanya.

Ia juga meminta penganut agama lain bertoleransi dan menghargai bulan Ramadhan dengan tidak melakukan kegiatan makan minum di tempat umum dan praktik lain yang akan merusak ibadah puasa.

"Ramadhan adalah bulan ibadah mari menghargai umat Islam yang sedangkan melaksanakan Puasa Ramadhan dengan menjaga ketertiban dan kenyamanan," kata Duski.

MUI juga mengajak ulama, mubaligh, pengurus masjid, mushala, komunitas umat untuk mensyiarkan Ramadhan dengan ibadah, dakwah, infak, sedekah, baca Alquran dan amal kebaikan.

Masyarakat juga diminta menjauhi pola hidup konsumtif, berlebih-lebihan, menegakkan akhlak mulia, tidak berfoya-foya dalam berbuka, dan tidak melakukan praktik keagamaan yang tidak ada dalilnya. Ia mengajak masyarakat menyongsong Ramadhan dengan tenang serta menjaga kesederhanaan dalam menyambut Idul Fitri.

Kepada pengurus masjid, mushalla, sekolah dan tempat pendidikan diminta untuk mengisi bulan Ramadhan dengan Pesantren Ramadhan, pendidikan dan pelatihan keagamaan, pengawasan ibadah puasa, baca Alquran dan pembiasaan ibadah bagi anak didik.

Sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat berkunjung ke Padang menyampaikan penetapan awal Ramadhan 2018 akan tergantung hasil penetapan sidang istbath melibatkan seluruh pimpinan ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia. "Mudah-mudahan tahun ini kita bersama-sama mengawali puasa di bulan Ramadhan dan Idul Fitri," kata dia.

Menurutnya pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan mengikuti apa yang menjadi keputusan Majelis Ulama Indonesia dengan dua pendekatan yaitu metode hisab dan rukyah.

Terkait dengan ormas Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Ramadhan 1439 Hijriah bertepatan dengan 17 Mei 2018 ia mengatakan hal itu merupakan itu merupakan tradisi sendiri.

"Muhammadiyah punya metode sendiri dalam menentukan 1 Ramadhan dengan menggunakan metode hisab yaitu menghitung posisi hilal ada di mana," katanya.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
07-05-2018 10:00