Main Menu

Urgensi Fakultas Haji Umrah di Perguruan Tinggi Islam

Birny Birdieni
04-08-2018 13:35

Dirjen PHU Nizar Ali (berpeci) menuntun jemaah haji berusia lanjut di Kantor Daker Makkah, Jumat (03/08) malam. (Dok.Kemenag/RT)

Artikel Terkait

 

Makkah, Gatra.com- Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU), Nizar Ali mengungkapkan urgensi dari keberadaan Fakultas Haji-Umrah di Perguruan Tinggi Islam. Sebab aspek Haji-Umrah makin kompleks dan dinamis.

“Sebagai bisnis jasa dengan demand dan animo pasar terus meningkat, yang dibutuhkan bukan hanya pembimbing ibadah haji profesional. Tapi juga tenaga profesional dalam pengelolaan sisi bisnis haji dan umrah,” ungkapnya di sela monitor pelayanan jamaah ke Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Arab Saudi, Jum’at malam (3/8).

Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kemenag itu menyerukan pentingnya pembicaraan akademik yang komprehensif antara para rektor dan pemangku kebijakan diPerguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Saat ini, program studi terkait Haji dan Umrah ada di lingkungan PTKI. Prodi tersebut berada pada dua fakultas, yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Namun ada pula yang berpandangan, prodi bidang Haji-Umrah itu relevan di Fakultas Tarbiyah (pendidikan) atau Syariah (hukum Islam).

Prodi Haji-Umrah diletakkan di Fakultas Dakwah karena terkait Prodi Bimbingan dan Konseling. Sebab salah satu layanan penting dalam penyelenggaraan tersebut adalah bimbingan ibadah, khususnya manasik haji dan umrah dan turunannya. ­

Adapun PTKI menempatkan Prodi Haji-Umrah di Fakultas Ekonomi-Bisnis, dikarenakan melihat aspek manajemen dan bisnis dalam penyelenggaraan Haji-Umrah ini makin menantang dan dinamis.

Seiring itu banyak juga pengembangan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Sehingga fakultas-fakultas non-studi agama, seperti Ekonomi dan Bisnis, dan lain-lain, juga bermunculan.

Dalam hal ini, aspek Haji-Umrah memang makin berkembang. “Sudah tidak cukup sekadar Prodi, sudah harus jadi Fakultas,” kata Juru Bicara Kemenag Mastuki yang pernah menjadi Kasubdit di Direktorat Pendidikan Tinggi itu.

Mastuki mencontohkan, misal dalam keuangan haji, baik yang berasal dari setoran awal calon jamaah dan maupun sisa Dana Abadi Umat, jumlahnya makin besar. Nah Dana ini dikelola khusus secara profesional oleh Badan Pengelola Keuangan Haji agar dapat diinvestasikan.

Tujuannya supaya manfaatnya makin besar bagi jamaah dan publik luas. Masduki menjelaskan bahwa untuk mencapai itu diperlukan pula tenaga terampil bidang keuangan haji.

Lalu dari aspek pariwisata, kata Mastuki, haji dan umrah merupakan bagian penting dari tren global layanan Islamic Tourism atau wisata halal. “Kini menjadi salah satu faktor signifikan penggerak perputaran ekonomi, baik global maupun domestik,” ungkapnya.

Jadi pengembangannya, bisa berupa Fakultas Wisata Halal atau Pariwisata Islam. Sehingga mencakup wisata halal non-haji-umrah yang kini juga berkembang. Disini Indonesia memiliki peluang besar. 

Lalu kaitan dengan sejumlah hotel, sebagai  bagian krusial dari wisata halal juga ikut terlibat. Yakni banyak yang mengurus sertifikasi halal atau mendeklarasikan diri sebagai hotel syariah.


 

Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
04-08-2018 13:35