Main Menu

MUI : Momen Tahun Baru Islam, Elite Politik Harus Menahan Diri

Birny Birdieni
11-09-2018 07:53

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Zainut Tauhid Sa’adi. (Dok.MUI/RT)

Artikel Terkait

Jakarta,  Gatra.com- Dalam momentum tahun baru Hijriyah 1440, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Zainut Tauhid Sa’adi mengajak umat Islam senantiasa meningkatkan toleransi, keseimbangan, dan bersikap adil.

 

Tidak hanya itu, umat Islam juga diharapkan tidak lagi terkungkung dalam perdebatan yang sifatnya kurang substansial atau furuiyah dalam menjalankan ajaran agama.

“Sikap-sikap ini demi mewujudkan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyyah) dan persatuan umat (wihdatul ummah), ” kata pria yang akrab disapa Buya dalam rilis diterima Gatra.com, Selasa (11/9).

Dibandingkan memperdebatkan masalah-masalah seperti itu, menurut Buya sebaiknya energi umat dimaksimalkan untuk mengembangkan wawasan kebhinekaan sejati sert penciptaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, dan harmonis.

Juga saling menghormati dan mencintai serta menolong dalam persaudaraan kebangsaan atau ukhuwah wathaniyyah. Terlebih dalam menjaga persaudaraan kebangsaan pada tahun politik ini.

Buya mengingatkan segenap elite politik sebaiknya lebih menahan diri. Suasana kebangsaan yang semakin panas, tegang, dan melahirkan kecurigaan patut dihindarkan.

”Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah tetap terpelihara,” kata Buya.

Dia menyatakan respons perbedaan pilihan politik berbentuk saling menjelekkan dan memfitnah, menyebarkan hoaks, serta ujaran kebencian justru memunculkan pendidikan politik yang kurang baik bagi masyarakat.

Tindakan seperti itu potensial menumbuhkan gesekan dan meretakkan bangunan kebangsaan yang telah lama dijaga.

Karenanya, Buya mengajak segenap pihak harus mengingat bahwa tujuan terbentuknya negara ini untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

”Kami berharap 1440 Hijriyah ini dapat meningkatkan amal kebajikan agar dapat memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi umat manusia, bangsa dan negara,” ungkap Buya.

Saat ini, menurut dia, kepedulian tersebut bisa diwujudkan melalui solidaris nasional para dermawan, pengusaha, serta berbagai pihak meringankan beban korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Bantuan itu sebagai bentuk refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, kepedulian dan saling menolong antarsesama dalam kebajikan dan ketakwaan," tutu Buya. Yakni untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang adil, bahagia, sejahtera lahir dan batin.


Birny Birdieni

Birny Birdieni
11-09-2018 07:53