Main Menu

Survei: Setahun Berkuasa, Jokowi Sengaja Pilih Tidak Populer

Nur Hidayat
09-10-2015 16:30

Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Jakarta, GATRAnews - Bulan madu Presiden Joko Widodo tampaknya mulai berakhir. Indikasinya terlihat dari tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo yang turun dibandingkan periode enam bulan pertama pemerintahannya. Hal itu terungkap dari survei nasional Indo Barometer bertajuk 'Keberhasilan dan Kegagalan Setahun Pemerintahan Jokowi -JK'.

Survei yang melibatkan 1200 responden di 34 propinsi menunjukkan tingkat kepuasan publik selama enam bulan kedua pemerintahannya hanya 46%, sementara yang tidak puas mencapai 51.1.%.

“Tingkat kepuasan ini menurun dibandingkan survei yang kami lakukan pada enam bulan pertama, yang mencapai 57,5%,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari. Survei yang dilakukan pada periode 14 – 22 September itu juga berhasil memotret enam masalah paling penting yang didominasi masalah ekonomi.

Selanjutnya, sulitnya lapangan pekerjaan, harga sembako mahal, kemiskinan dan korupsi. Persoalan-persoalan ekonomi bahkan berhasil menggeser problem korupsi yang survei sebelumnya termasuk dua besar.

Publik menilai Presiden gagal mengendalikan harga kebutuhan bahan pokok, tidak mampu mengatasi masalah ekonomi, tidak berhasil menahan pelemahan rupiah dan menaikkan harga BBM. Namun ada beberapa program berhasil mencuri hati rakyat seperti program kesehatan, program pendidikan, dan program BLT.

Karakter Jokowi yang dekat dengan rakyat juga dipuji. Menurut anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, secara umum kinerja presiden sudah bagus. Apalagi dalam situasi ekonomi saat ini. Menurutnya ada masalah struktural ekonomi yang ingin diselesaikan bersama timnya. Seperti misalnya pengalihan subsidi BBM.

Hal ini menyebabkan popularitasnya menurun. “Itu pilihan yang diambil secara sadar. Hal ini juga bersifat strategis, karena presiden memiliki tools untuk memulihkan popularitasnya menjelang pemilu mendatang,” katanya.

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy lebih menyoroti pendapat 67% responden yang menilai kondisi ekonomi nasional sekarang buruk. Menurut mantan anggota DPR ini, tingginya angka itu mengisyaratkan kinerja kementrian yang buruk dan ini tidak lepas dari kemampuan Presiden memilih orang untuk duduk di jabatan menteri.


Reporter: RO

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
09-10-2015 16:30