Main Menu

PROJO: Novanto Telah Merusak Negara

Iwan Sutiawan
07-12-2015 21:26

Ketua DPR RI Setya Novanto (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta, GATRAnews - Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi menyatakan, Ketua DPR RI Setya Novanto telah merusak negara dan menyakiti perasaan rakyat karena terlibat skandal permintaan saham Freeport Indonesia dengan membawa-bawa nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

"Ketua DPR bukan saja menghina kepala negara, tapi juga perasaan rakyat yang memilihnya. Novanto telah menghina negara karena lembaga yang dipimpinnya mengalami degradasi politik yang dahsyat. Kasihan anggota DPR yang masih punya hati nurani ikut terseret," kata Budi di Jakarta, Senin (7/12).

Menurutnya, kerusakan akibat ulah Novanto itu bukan hanya secara institusional, tapi juga etik, nilai dan substansi demokrasi di Indonesia yang sudah tumbuh secara baik.

"Negara ini didirikan oleh tetesan darah, keringat, dan air mata para pahlawan. Pendiri bangsa mendirikan negara ini dengan keberanian, kejujuran, keikhlasan dan semangat pantang menyerah. Jangan sampai negara ini dihancurkan oleh ulah ketua DPR," ujarnya.

Terkait skandal papa minta saham Freeport, PROJO mendukung penuh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memproses dugaan pelanggaran etik Novanto sesuai ketentuan dan transparan.

"Tapi apa yang dipertontonkan hari ini, sungguh sangat memalukan. Kami sepakat dengan Presiden, bahwa ini soal moralitas dan wibawa negara," tuturnya.

Sidang tertutup hari ini, seakan mengisyaratkan adanya yang disembunyikan, karena pada persidangan sebelumnya, MKD membukanya untuk umum, sehingga publik bisa memantau langsung fakta persidangan dan mengawalnya.

"Mau dibawa ke mana  demokrasi dan peradaban bangsa kita? Warisan seperti apa yang hendak diberikan kepada generasi mendatang," ucapnya.

PROJO mendesak penegak hukum, yakni Kejaksaan, Polri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera bertindak tegas mengusut skandal ini. "Jangan sampai rakyat yang marah dan menjadi hakimnya," kata Budi menandaskan.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
07-12-2015 21:26