Main Menu

PKB 'Cium' Keterlibatan PDI Perjuangan Mobilisir Demo Menteri Marwan

Wem Fernandez
09-04-2016 12:38

Jazilul Fawaid (ANTARA/HO Beni/re1)

Jakarta, GATRAnews - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai ancaman demo Aliansi Forum Pendamping Dana Desa (AFPDS) eks Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan digerakan oleh politikus PDI Perjuangan. 
 
Aliansi tersebut, dikabarkan akan melakukan aksi demo dalam waktu dekat ini menuntut mengenai status perpanjangan mereka yang berakhir Maret 2016. 
 
"Coba perhatikan demo yang dilakukan pertama oleh eks PNPM di depan Istana, yang proaktif politikus PDIP seperti Pramono Anung Cs. Aksi ratusan orang itu diterima oleh Pramono saat Presiden Jokowi tak ada di Istana. Kedua, mereka lalu ke DPR saat reses. Dan yang nerima mereka juga politikus PDIP Diah Pitaloka dan Alex Lukman," ujar politisi PKB Nihayatul Wafiroh di Jakarta, Jumat (8/4). 
 
 
Nihayah tak habis pikir jika mobilisir justru dilakukan oleh PDI Perjuangan. "Mereka yang juga sama-sama anggota dari partai koalisi justru secara terang-terangan menikam teman sendiri," tambah Nihayah. 
 
 
Seharusnya kata dia, politikus PDIP saling mendukung para menteri Kebinet Kerja agar bekerja maksimal. Bukan justru membuat politik gaduh, apalagi nampak menikam anggota kabinet.
 
"Pramono Cs ini nampak seperti menggunting dalam lipatan," tegas anggota DPR RI ini.
 
Sementara Wasekjen DPP PKB, Jazilul Fawaid menilai ada elit parpol yang menekan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan reshuffle atau perombakan kabeniet. Bahkan elit itu kata dia, terkesan ingin mendikte Jokowi.
 
Penilaian Jazil memang cukup bukti. Akhir bulan lalu, tepatnya pada 23 Maret, ratusan orang yang tergabung dalam AFPDS Jawa Barat berdemonstrasi di Istana Negara. Presiden waktu itu tidak berada di Jakarta. Tak biasanya, ketika itu Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung langsung menerima 17 perwakilan pendemo, dan kepada media terang-terangan menyerang kinerja Menteri Desa Marwan Jafar. 
 
“Keliatan sekali motifnya, pernyataan Seskab di media ketika itu kan ingin intervensi atau ngatur-ngatur presiden,” ujar anggota DPR itu.
 
Ia menambahkan, manuver dan penggiringan opini ini terjadi sejak 14 Maret lalu saat majalah dan Koran Tempo memberitakan peta reshuffle. Tanpa wawancara dan data akurat, media itu ujug-ujug menampilkan nama Mendes Marwan Jafar sebagai menteri yang layak diganti.
 
“Dari situ, pemberitaan soal Marwan Jafar di media itu terus negatif, hingga hari ini. Keliatan sekali ingin nekan dan ngatur-ngatur agar presiden terpengaruhi. Sebuah Majalah Mingguan sudah bermain politik ingin menjatuhkan Marwan," kata dia.

Reporter: Wem Fernandez 
Editor: Dani Hamdani 
Wem Fernandez
09-04-2016 12:38