Main Menu

Golkar Berpeluang Besar Usung Setnov Cawapres Jokowi

Rohmat Haryadi
28-05-2017 10:36

Jakarta GATRAnews - Rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Golkar yang digelar di Balikpapan, Senin dan Selasa, membawa angin segar untuk pencalonan Setya Novanto sebagai calon Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo dalam Pilpres 2019. "Dengan pernyataan ARB (Aburizal Bakrie), Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar di dalam Rapimnas kemarin, keinginan tersebut mendapatkan angin segar," kata Ahmad Doli Kurnia, Politisi Muda Partai Golkar, Jumat lalu.


Dalam Rapimnas, ARB mengusulkan Rapimnas Partai Golkar membahas kriteria bakal calon wakil presiden. Golkar yang selama ini mendukung penuh Joko Widodo untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu 2019, berharap bisa menjagokan kadernya sebagai calon wakil presiden untuk Jokowi. “Menghadapi pemilu presiden 2019, Partai Golkar sudah memutuskan mendukung Pak Jokowi sebagai capres, tapi posisi cawapres masih kosong. Apakah Partai Golkar akan mengusulkan satu atau dua nama sebagai bakal cawapres,” kata ARB.

Memang selama ini Jusuf Kalla, adalah wakil presiden yang juga kader Golkar. Namun dalam pilpres mendatang Jusuf Kalla, sudah tidak bisa lagi mendampingi Jokowi karena sudah dua kali menjadi wapres. Untuk itu, Aburizal, menilai akan lebih baik jika bakal cawapres itu dari Partai Golkar lagi. “Jangan jangan sebut sebut nama dulu dalam usulan itu, tapi baru sebatas kriteria,” katanya.

Menurut Doli, meskipun dua kali membantah bahwa Golkar berkeinginan mencalonkan Setnov, sebagai cawapres Jokowi, pernyataan ARB itu cukup jelas arahnya. "Dua kali pencalonan Setnov sebagai Cawapres oleh AMPG yang Ketua Umumnya Fahd Arafiq adalah orang dekatnya Setnov, terkesan malu-malu karena setelah itu selalu dibantah. Pasca Rapimnas kemarin, akhirnya keinginan itu tidak terbantahkan dan tidak bisa ditutup-tutupi lagi," tegas Doli.

Tentu keinginan Golkar menjadi cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 akan sangat mempengaruhi konstelasi politik partai secara nasional, terutama bagi partai-partai politik pengusung dan pendukung Jokowi sejak 2014. Menurut Doli, dengan tiba-tiba mendahului pencalonan Jokowi sebagai capres 2019 saja, telah membuat PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura gerah. "Apalagi kemudian ada keinginan dipaketkan pula sekaligus juga dengan Cawapresnya yang berasal dari Golkar. Bagi Partai Golkar, seperti yang disampaikan beberapa kali sebelumnya, hal ini merupakan strategi untuk meningkatkan elektabilitas, mendompleng popularitas dan elektabilitas Pak Jokowi," katanya.

Secara politik itu sah-sah saja, apalagi saat ini Golkar sedang ditimpa banyak masalah terkait isu korupsi. "Terkait soal siapa cawapresnya, saya berpendapat, bila Setnov berhasil "lolos lagi" dari jeratan isu korupsi e-KTP kali ini, maka yang paling tepat untuk mendampingi Pak Jokowi sebagai pasangan Capres-Cawapres di 2019 adalah Setnov," katanya.

Pertama, Setnov pasti masih Ketua Umum yang merupakan jabatan tertinggi di Partai Golkar. Kedua, dengan lolosnya Setyanovanto berkali-kali dari jeratan hukum, menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sangat kuat, dan bisa lolos karena mampu membangun komunikasi politik yang sangat baik dan kedekatan yang sangat erat dengan Pak Jokowi. "Artinya ada chemistry yang nyambung dan kuat antara Pak Jokowi dan Setnov. Tentu chemistry yang kuat sangat diperlukan bagi sebuah pasangan Capres-Cawapres. Namun tentu itu semua kembali terpulang kepada pak Jokowi sebagai Calon Presiden 2019," tutup Ahmad Doli Kurnia.


Editor: Rohmat Haryadi

Rohmat Haryadi
28-05-2017 10:36