Main Menu

PDIP: Pelibatan TNI Berantas Terorisme Khianati Cita-cita Reformasi

Ervan
31-05-2017 22:00

Anggota Komisi I DPR, Charles Honoris (GATRAnews/Ervan Bayu/AK9)

Jakarta, GATRAnews - Anggota Komisi I DPR, Charles Honoris menilai pelibatan TNI dalam upaya pemberantasan tindak pidana terorisme yang diperdebatkan di pembahasan Revisi Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme merupakan bentuk pengkhianatan cita-cita reformasi.

"Reformasi melahirkan banyak institusi baru termasuk melahirkan Undang-undang Anti-Terorisme dengan model penegakan hukum, kalau kita melenceng, kita bergeser dari penegakan hukum, maka kita mengkhianati amanat reformasi itu sendiri," kata Charles di Jakarta, Rabu (31/5).

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu mengaku bukan anti untuk melibatkan militer dalam upaya pemberantasan tindak pidana terorisme yang sedang digodok di DPR, tapi hanya ingin mendudukkan institusi pada porsinya.

"Anggota TNI itu dilatih dan dididik untuk perang serta untuk pertahanan negara. Sedangkan, untuk penegakan hukum dilakukan pihak kepolisian, Densus 88 oleh pihak penegakan hukum," ujarnya.

Di samping itu, Charles melihat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin melibatkan TNI dalam pemberantasan terorisme di Revisi Undang-undang Terorisme banyak disalahartikan. Menurut dia, presiden ingin TNI dilibatkan dalam berantas teroris secara terbatas.

"Karena sebagai panglima tertinggi, saya yakin presiden memahami terkait aturan UU terkait dengan tupoksi TNI. Jadi menurut saya, statemen Jokowi tentang pelibatan TNI lebih banyak disalahartikan," lanjutnya.

Menurut dia, saat ini mengacu pada Undang-undang TNI Nomor 34 Tahun 2004 itu bisa dilibatkan dalam upaya pemberantasan terorisme atas dasar keputusan politik negara dan tidak ada yang melarang atau menghalangi TNI ikut berantas terorisme asalkan ada keputusan politik negara‎.

"Kedepannya praktiknya, maksudnya bisa saja asalkan ada permintaan dari penegak hukum kepolisian. Maka TNI bisa saja terlibat pemberantasan terorisme," ucapnya.


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Nur HIdayat

 

 

Ervan
31-05-2017 22:00