Main Menu

Bicara Mahar di Pilkada, Zulkifli: Kata Itu Menyudutkan Islam

Wem Fernandez
16-01-2018 18:17

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. (Antara/Yudhi Mahatma/AK9)

 

 

 

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menilai, penggunaan kata mahar sebagai bentuk suap dalam politik jelang Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) sangat tidak tepat. Sebaiknya, istilah tersebut digantikan dengan ‘suap politik’ saja. 

 

“Begini ya, istilahnya mahar itu hati-hati. Mahar itu kalimat sakral, itu seolah-olah menyudutkan islam. Mahar itu pernikahan, itu ada maharnya, jadi yang suci. Kenapa enggak dikatakan suap politik saja. Kenapa mesti pakai istilah mahar,” kata Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, (15/1). 

 

Ia menambahkan, dalam mengusung bakal calon pada pesta Pilkada, PAN sendiri tidak meminta imbalan atau suap politik. Karena larangan tersebut dengan tegas diatur dalam ‘Undang-Undang’ partai. 

 

Berbeda misalnya, untuk Pilkada Jawa Tengah dimana PAN melabuhkan dukungan kepada bakal calon Sudirman Said. Kader-kadernya yang ada di DPRD, DPR RI, DPP merogoh kocek pribadi untuk membantu konsolidasi tim pemenangan yang ada di setiap desa. 

 

“Itu ada lima titik, 13 ribu kader-kader mulai dari desa kan perlu makan nasi kotak, kami urunan. Tapi kandidat juga memberikan transport Rp.100 ribu per anggota per orang yang datang. Kandidat menyumbang untuk ongkos pulangnya sebagai relawan untuk nanti membantu. Sebanyak 13 ribu banyak juga. Saya kalau itu, kalau untuk pemenangan kita oke, tapi kalau minta uang, suap, tidak,” tegas dia. 


Reporter : Wem Fernandez  

Editor     : Cavin R. Manuputty

Wem Fernandez
16-01-2018 18:17