Main Menu

Fahri Hamzah : KPK Jadi Anak Buah Kim Jong Un Saja

Wem Fernandez
14-02-2018 15:54

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah (GATRA/Abdurachman/FT02)

Jakarta, Gatra. com - Rentetan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak dinilai baik oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Fahri Hamzah. OTT merupakan cara lama yang digunakan lembaga pemburu koruptor ini dan tidak efektif memberikan efek jera kepada para pelaku korupsi. 

 

“Jadi saya menganggap KPK itu sudah mengalami kematian fungsi dan eksistensi kaya sekarang ngejar-ngejar bupati, kayak lagi berburu dikebun binatang, enggak ada guna. Cocoknya KPK pindah ke Korea Utara saja, suruh jadi aparatnya Kim Jong Un, itu cocok dia,” tegas Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jalarta Pusat, Rabu, (14/2).

 

Ada dua negara yang bisa menjadi rujukan agar kerja KPK dalam memberantas korupsi efisien atau memberikan efek jera. Pertama, seperti yang ada di Hongkong atau kedua di Korea Selatan. 

 

Di Hongkong, sambung Fahri, KPK tampil sebagai lembaga investigatif dan tidak memiliki kewenangan yang lain seperti hak penuntutan, menentukan justice collaborator atau wewenang penyadapan.    

 

“Jadi jangan dia macam-macam pakai mulut Nazaruddin itu, sudah kacau ini. Pak Novanto saya baca ini-nya enam tahun dia di intip. Bagaimana, enam tahun enggak ketangkep, ya kan? Mana ada di negara, orang enam tahun diintip,?” tegas Fahri. 

 

Selanjutnya di Korsel, dimana KPK disebut sebagai lembaga komplain yang bergabung (Kalau di Indonesia) dengan lembaga lain seperti Ombusdman, Komnas HAM dan LPSK. Awalnya KPK Korsel sama seperti di Indonesia yang ‘berburu’ para koruptor. Sayangnya, ekonomi negara tersebut semakin lesu dan justru banyak komplain dari kelas menangah. 

 

“Nah, ini lembaga komplain yang setiap ada masalahnya lapor. Dan justru IPK (Indeks Persepsi Korupsi) melonjak, citranya naik. Lahir Samsung, Hyundai, IKEA, ratingnya baik. Lah ini (KPK), IPK empot-empotlah, kalah sama Timor Leste,” jelas Fahri. 


Reporter : Wem Fernandez  

Editor : Bernadetta Febriana

Wem Fernandez
14-02-2018 15:54